Refleksi

Bulan apa sih ini?

Terakhir posting kapan sih?

Rasanya terakhir kali posting ziih (zih banget nih?) sudah bertekad untuk rutin tapi ya gitu deh… bukan cuma koran yang punya, saya pun juga punya wacana. Wacana doang.

Beda waktu, beda tren, beda hobi.

Semua dicobain. Sebut deh apa yang belum pernah saya coba. Hiperbola sih.  Cuma ingin memberi gambaran kalau saya orang suka suka mencoba. Mulai dari musik, bahasa, menjahit, olahraga segala rupa, baik itu fitness, yoga, muay thai, renang, tenis, basket, jogging apa punlah. Semua dijabanin.

Tapi ada satu hobi yang dari dulu sejak SMP hilang timbul tapi anehnya ya pasti selalu muncul. Ya menulis.

Nggak pernah bilang jago sih. Namanya juga hobi. Tapi di setiap musiman muncul hobi baru pasti secara random suka ingat kalau saya suka menulis. Untungnya ada wordpress, jadi kadang suka ingat lagi sih walau di sini nulisnya juga kacangan.

Ya, semoga. Mumpung sedang ingat, di hari depan semakin bisa terealisasikan lah hobi saya yang walau lama tapi nggak ada progressnya.

Semoga juga samkin banyak latihan, bisa semakin mahir dan semakin cihuy.

Salam apa aja boleh,

Rini.

Advertisements

Baju Baru Alhamdulillah

Bukan. Bukan karena saya sedang banyak fulus lalu belanja.

Cuma gara-gara sore tadi dengan randomnya membuka kotak peralatan dan kebutuhan jait. Ada setumpuk kain yang dulu dibeli sampai rela uang jajan bulanan habis dan terancam jadi gembel di akhir bulan, yang malah akhirnya cuma jadi pajangan di kos an.

Mending dipanjang, lha ini… nyungsep di kotak dengan tulisan ‘Kripik Balado’.

Hasrat yang tiba-tiba muncul tadi mungkin ditrigger habis ngajarin temen jahit ala-ala. Karena malu masa punya mesin jahit tapi yang pakai orang, sendirinya di cuekin, akhirnya tadi kuambil buluh sebatang kain yang dibutuhkan, kupotong sama panjang (sesuai cetakan baju yang ada dan bukan dari pola. Males euy bikin pola dan ribet), lalu kujahitlah si kain dengan benang, kujadikan baju baru.

Alhamdulillah, walau pun dari jarak dekat akan keliatan cacat sana-sini, yang penting pernah bikin baju yang akhirnya bisa dipakai dan nggak malu buat dipakai lah.

Setengah pengen pamer, setengah ngerasa puas karena setelah sekain lama, akhirnya menjahit lagi. Jadi, boleh lah ya, pajang-pajang sikit fotonya.

Continue reading “Baju Baru Alhamdulillah”

Love Actually

Dari sejak hampir dua puluh tujuh tahun saya hidup, nyaris hampir empat belas tahun terakhir selalu ada jejak menulis yang saya buat. Ya, tentu saja tak pernah selesai karena alasan yang itu-itu saja. Kalau bukan karena tulisan terlalu memalukan untuk dilanjutkan, ya biasanya writer’s block.

Terlepas dari gaya bahasa saya yang sangat amatiran, saya tetap saja menaruh minat untuk hobi yang satu ini. Secara spesifik, saya sangat menikmati menulis cerita fiksi, khususnya romance. Inginnya sih packagingnya sesuai umur, tapi apa daya setiap dibaca, pasti harus berbesar hati bahwa gaya menulis saya mungkin setara dan cocok untuk usia remaja. Namanya juga bukan profesional. Jadi, saya mencoba berbesar hati. Mungkin saya hanya butuh waktu untuk terus menulis dan belajar dan banyak membaca agar semakin lama terus ada peningkatan dalam kualitas penulisan saya. Pun, juga semakin mengasah otak saya untuk menulis cerita yang menarik.

Dan sebuah pencapaian adalah untuk pertama kalinya sejak empat belas tahun saya menulis fiksi terutama, akhirnya ada satu cerita yang berhasil saya selesaikan. Cerita fiksi yang masih tentang cinta. Iya, topik yang selalu sama karena selain memang itu yang paling mudah untuk saya tulis juga itu satu-satunya topik yang nggak akan ada habisnya untuk dibahas.

Dan bagi saya,

Tidak akan seorang pun yang bisa menghargai karya atau apa yang saya tulis, jika saya tak lebih dulu menghargainya

Continue reading “Love Actually”

W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes

W two worlds  (source: google image)
W two worlds
(source: google image)
Screen shoot dari youtube :)
Screen shoot dari youtube 🙂

Sebenarnya saya bukan pecinta fanatik drama korea, apalagi dulu waktu masih zaman S1. Ketika teman-teman sedang heboh-hebohnya dan gandrung dengan boysband atau girlsband korea, saya mah nggak pernah tertarik sekalipun sering banget dicekokin korea. Bukan cuma boysband dan girlsband sih, drama korea juga. Jadi dulu itu, cuma sekedar tahu ini band apa itu band apa, siapa personilnya, tapi nggak pernah yang benar-benar ngikutin. Untuk sebuah alasan tertentu, saya nggak pernah bisa benar-benar suka dengan artis-artis korea, terutama boysband.

Anehnya, sekarang-sekarang malah bisa dibilang lumayan mengikuti trend drama korea terbaru. Nggak semua sih. Cuma beberapa, tapi ini juga sudah kemajuan karena dulu sama sekali enggak. Sekalinya dulu pernah ikutan nonton drama korea yang diadaptasi dari komik jepang, pada akhirnya berakhir dengan kecewa karena saya jauh lebih puas dengan versi adapatasi yang Jepang. Jadi, ujung-ujungnya nonton drama korea (drakor) nggak pernah punya ekspektasi lebih. Just for fun aja sih ujung-ujungnya karena memang seringnya kecewa. Tapi, itu dulu sih. Kalau dulu cuma taunya my girlfriend is a gumiho, sekarang lumayanlah tau lebih banyak. Nggak ngerti ya, memang sekarang-sekarang drakor lagi bagus-bagusnya atau memang saya yang mulai terbuka buat nonton. Belakangan malah suka nonton drakor apalagi kalau bintang tamunya pernah muncul di running man. Sering sih nonton cuma gara-gara alasan ini. Contohnya My love from another star, Moon that embraces the sun, DOTS, beautiful gongshim, Let’s fight ghost, dan lain-lain. Iya, saya cuma nonton drakor yang hits aja soalnya biar nggak kecewa-kecewa banget. Karena kan, kalau drakornya hits, artinya ya bisa dibilang ada faktor istimewa yang dipunyai drakornya. Ada drakor yang akhirnya saya suka, ada juga yang sebenarnya so-so.

Continue reading “W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes”

Love and Hate Relationship (Tribute to YP51A MBA-ITB)

Saya nggak pernah jelas sih bagaimana cara kerja memori. Tapi, sore ini, potongan-potongan kenangan berlalu lalang di pikiran saya.

Sedari dulu saya adalah satu orang yang bisa dibilang apatis terhadap sekitar. Sungguh. Saya tidak pernah begitu peduli dengan sekitar atau orang bilang saya nggak pernah enganged dalam suatu komunitas. Ngerasain sih. Saya nggak pernah merasa terikat terhadap sesuatu lingkaran sosial, baik itu grup waktu SD, SMP, SMA, S1 sampai apoteker.

Mungkin memang ada yang salah dengan saya yang terlalu individualis ini. Rasanya tidak pernah ada hal yang begitu istimewanya sampai saya harus enganged dengan komunitas yang saya pernah terlibat di dalamnya. Maksudnya secara keseluruhan. Selama ini saya hanya merasa punya chemistry dengan segelintir atau sekelompok kecil saja. Dan berhubung saya orang yang bisa dibilang loyal, jadi saya biasanya betah dan stay di kelompok itu saja. Contohnya saja ketika zaman S1, orang-orang yang buat saya istimewa dan mampu membuat saya tetap ingin menjaga komunikasi dengan mereka itu bisa dihitung dengan jari.

Tapi, mendadak sore ini saya ingin menulis tentang mereka yang entah kenapa mendesak saya untuk menulis di sini. Mungkin karena mereka berbeda. Jika jawaban saya hanya sekedar “biasa aja” ketika ditanya dan mengingat orang-orang yang pernah bersisihan takdir dengan saya dulu mulai dari SD, SMP, SMA, S1 sampai Apoteker, tapi tidak kumpulan yang ini.

Mungkin tulisan ini di hari depan sudah tak berarti apa-apa lagi seiring waktu, tapi rasanya sekarang mereka punya makna buat saya. Sesuatu yang selama ini sejujurnya tidak pernah saya pikirkan. Mengingat saya hanya peduli pada lingkaran kecil saya. Lagipula, tidak ada untungnya memang mereka diingat oleh saya. Saya bukan siapa-siapa. Bukan Pidi Baiq yang semua orang pasti senang jika diingat dalam tulisannya. Bukan juga Dee Lestari. Tapi setidaknya, saya niat mengabadikan perasaan yang sekarang dalam tulisan. Bahkan sekedar untuk bisa menyelesaikan tulisan ini saja, saya harus dibantu lagu Bondan ft Fade 2 Black untuk bisa membantu saya memelihara memori yang sedang berkelebat sampai tulisan ini selesai.

Kumpulan yang saya maksud ini adalah  teman-teman satu kelas selama saya menempuh pendidikan magister saya, YP51A, yang sebagian besar sudah wisuda. Karena mereka sedikit berbeda dan ada banyak hal yang ingin saya ingat tentang mereka, sekalipun kadang saya mengingat dengan rasa kesal atau pun benci. Yaa.. love and hate relationship-lah they said.

Kumpulan yang ini buat saya berkesan. Kadang, saya benci dan kesal pada mereka (yah.. walaupun hanya gara-gara beberapa oknum), tapi kadang saya juga senang bersama mereka.

PhotoGrid_1471861111481
YP 51 A

Continue reading “Love and Hate Relationship (Tribute to YP51A MBA-ITB)”

Absolute Random

Dengan dua jempol yang sibuk bergerak pada layar handphone dan tatapan yang fokus ke layar, bukan berarti otak saya sepenuhnya ada pada layar ukuran kurang lebih 7cm x 12cm yang radiasinya lama-lama bisa bikin mata saya perih. Sama sibuknya dengan dua jempol saya, otak saya juga seakan tidak mau kalah untuk ikutan sok sibuk mikirin banyak hal, yang pada akhirnya membuat saya bangun dari kasur dan akhirnya berpindah ke layar yang lebih besar yang saya juga tidak yakin ukuran layar laptop ini berapa inch.

Ada yang menganggu dan saya cuma ingin mengadu.

Tidak ada teman yang ingin saya ganggu tentang curcol-an kali ini karena saya tahu pikiran random yang berangkat dari sebuah sekelumit kejadian di masa lalu yang tidak penting ini juga tidak cukup berharga untuk mereka dengarkan.

Belakangan, di saat saya berusaha di setiap malamnya mencoba menutup mata untuk beristirahat, di saat itu pula otak saya semakin menentang untuk berhenti sejenak. Mungkin memang sudah dari lahir saya dianugrahi bakat pemberontak yang seringnya jarang tersalurkan dan berujung pada kekacauan batin. Bahkan ketika ingin memberontak pun, sebagian diri saya yang tidak ingin memberontak juga memberontak.

Sebenarnya ada banyak yang tadi sempat melintas di pikiran saya. Terlebih setelah sebuah kontak telepon saya tutup. Tapi yang satu ini adalah satu-satunya yang bisa saya utarakan di sini dengan harapan sedikitnya beban pikiran bisa berkurang.

Adalah sebuah kejadian yang mengusik ini terjadi bahkan mungkin lebih dari setahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat punya keinginan untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jerman yang pada akhirnya membawa saya menjadi seorang siswa kursus di sebuah institut bahasa dan kultur Jerman yang terkenal di Bandung. Saya bukan ingin bercerita soal saya yang akhirnya pasang bendera putih pada keinginan saya untuk S2 di Jerman. Bukan. Sudah lama saya ‘tutup buku’ untuk itu. Tapi ini soal menulis.

Continue reading “Absolute Random”

Lesson learned from ‘Rich Man, Poor Woman’

Ini adalah tentang sebuah drama Jepang yang dibintangi Oguri Shun dan Ishihara Satomi. Drama yang sudah cukup lama sebenarnya. Tahun 2012. Hanya saja, saya baru bisa selesai menonton sekarang-sekarang ini mengingat bandar drama Jepang yag biasa memasok sudah pindah kota, sementara teman-teman di kampus doyanannya drama Korea *yang sebenarnya juga belakangan saya ikutin behehehehehek*

rich_man_poor_woman-p11
Poster Film ‘Rich Man, Poor Woman’ dari sumber onigirilove.com

Karena belakangan saya lumayan akrab dengan salah satu situs streaming online gratis untuk nonton drama maupun film, baik itu Jepang, Korea, China, Taiwan bahkan Thailand, jadi kembalilah pasokan drama yang buat ditonton mendadak banyak. Lumayan pengalihan yang keterusan.

Banyak drama yang lumayan sudah ditonton di sana sih cuma akhirnya memilih drama ini buat diulas di sini karena banyak lesson learned yang bisa saya ambil. Bukan cuma pelajaran dari dramanya sendiri tapi bahkan juga dari terjemahannya bahasa Inggris si dramanya. Edyaaaannnnn 😀 Walaupun yaa… sejujurnya lumayan ketipu sih. Mengira ini drama pure romance atau cinta-cintaan yang cuma tinggal nonton. Eh, kiranya mainly tentang bisnis dan bromance yooooww. Cinta-cintaannya baru kental di tiga episode terakhir. (Btw, ini drama ternyata ada episode 0-nya yang cuma dua belas menit saja dan juga episode semacam episode spesialnya yang berdurasi dua jam yang belum saya tonton yang saya yakin ini yang episode spesial pasti full cinta-cintaan).  Yang bikin saya akhirnya memutuskan untuk menonton juga… hanya karena sebuah komentar yang di mata saya kok malah seperti menantang.

Ceunah kurang lebih,

“Tonton aja. Mana ada drama Oguri Shun yang mengecewakan.”

Ya tak ladeni.

Continue reading “Lesson learned from ‘Rich Man, Poor Woman’”

Mesin Jahit Baru, Alhamdulillah

Jadi bulan Februari ini buat saya pribadi selamanya akan selalu menjadi salah satu bulan yang istimewa dalam satu tahun. Kenapa? Jelas, karena di salah satu tanggal di bulan ini, saya dilahirkan.

Bulan ini juga genap saya mengikuti kursus jahit di salah satu lembaga di Bandung. Belum bisa apa-apa sih tapi lumayanlah udah ada yang jadi. Bulan pertama sih jangan ditanya semangatnya gimana. Senin sampai Jumat kurang lebih empat jam sudah pasti saya habiskan di tempat kursus buat ngejait.

Bulan pertama doang sayangnya…

Februari ini masuk bulan kedua, dan minggu ini ada 5 hari kursus yang bebas saya datangi, nyatanya kuantitas menurun drastis cuma jadi dua kali seminggu saja, itu pun paling lama cuma dua setengah jam. Ada beberapa alasan sih (yang kalau dipikir-pikir emang terlalu dibuat-buat):

  1. Sekarang tempat lesnya rame banget, sampai ngantri mesin jahit. Mana disana saya mesin favoritnya selalu keduluan dipake orang.
  2. Kalau temen yang dikenal ada di tempat kursus, udah deh, percuma les, karena bakalan ngobrol aja trus ujung2nya kerjaan nggak kelar. Buang-buang waktu.
  3. Klasik. Mulai sibuk kegiatan lain. Mencoba nggak meninggalkan tes*s lagi dan sekarang lagi ada jadwal ngajar satu orang buat belajar dasar bahasa Jerman level A1.

Tapi… Continue reading “Mesin Jahit Baru, Alhamdulillah”