Absolute Random

Dengan dua jempol yang sibuk bergerak pada layar handphone dan tatapan yang fokus ke layar, bukan berarti otak saya sepenuhnya ada pada layar ukuran kurang lebih 7cm x 12cm yang radiasinya lama-lama bisa bikin mata saya perih. Sama sibuknya dengan dua jempol saya, otak saya juga seakan tidak mau kalah untuk ikutan sok sibuk mikirin banyak hal, yang pada akhirnya membuat saya bangun dari kasur dan akhirnya berpindah ke layar yang lebih besar yang saya juga tidak yakin ukuran layar laptop ini berapa inch.

Ada yang menganggu dan saya cuma ingin mengadu.

Tidak ada teman yang ingin saya ganggu tentang curcol-an kali ini karena saya tahu pikiran random yang berangkat dari sebuah sekelumit kejadian di masa lalu yang tidak penting ini juga tidak cukup berharga untuk mereka dengarkan.

Belakangan, di saat saya berusaha di setiap malamnya mencoba menutup mata untuk beristirahat, di saat itu pula otak saya semakin menentang untuk berhenti sejenak. Mungkin memang sudah dari lahir saya dianugrahi bakat pemberontak yang seringnya jarang tersalurkan dan berujung pada kekacauan batin. Bahkan ketika ingin memberontak pun, sebagian diri saya yang tidak ingin memberontak juga memberontak.

Sebenarnya ada banyak yang tadi sempat melintas di pikiran saya. Terlebih setelah sebuah kontak telepon saya tutup. Tapi yang satu ini adalah satu-satunya yang bisa saya utarakan di sini dengan harapan sedikitnya beban pikiran bisa berkurang.

Adalah sebuah kejadian yang mengusik ini terjadi bahkan mungkin lebih dari setahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat punya keinginan untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jerman yang pada akhirnya membawa saya menjadi seorang siswa kursus di sebuah institut bahasa dan kultur Jerman yang terkenal di Bandung. Saya bukan ingin bercerita soal saya yang akhirnya pasang bendera putih pada keinginan saya untuk S2 di Jerman. Bukan. Sudah lama saya ‘tutup buku’ untuk itu. Tapi ini soal menulis.

Continue reading “Absolute Random”

Advertisements

Mesin Jahit Baru, Alhamdulillah

Jadi bulan Februari ini buat saya pribadi selamanya akan selalu menjadi salah satu bulan yang istimewa dalam satu tahun. Kenapa? Jelas, karena di salah satu tanggal di bulan ini, saya dilahirkan.

Bulan ini juga genap saya mengikuti kursus jahit di salah satu lembaga di Bandung. Belum bisa apa-apa sih tapi lumayanlah udah ada yang jadi. Bulan pertama sih jangan ditanya semangatnya gimana. Senin sampai Jumat kurang lebih empat jam sudah pasti saya habiskan di tempat kursus buat ngejait.

Bulan pertama doang sayangnya…

Februari ini masuk bulan kedua, dan minggu ini ada 5 hari kursus yang bebas saya datangi, nyatanya kuantitas menurun drastis cuma jadi dua kali seminggu saja, itu pun paling lama cuma dua setengah jam. Ada beberapa alasan sih (yang kalau dipikir-pikir emang terlalu dibuat-buat):

  1. Sekarang tempat lesnya rame banget, sampai ngantri mesin jahit. Mana disana saya mesin favoritnya selalu keduluan dipake orang.
  2. Kalau temen yang dikenal ada di tempat kursus, udah deh, percuma les, karena bakalan ngobrol aja trus ujung2nya kerjaan nggak kelar. Buang-buang waktu.
  3. Klasik. Mulai sibuk kegiatan lain. Mencoba nggak meninggalkan tes*s lagi dan sekarang lagi ada jadwal ngajar satu orang buat belajar dasar bahasa Jerman level A1.

Tapi… Continue reading “Mesin Jahit Baru, Alhamdulillah”

Kursus Jahit

After a long time of this hiatus

AKHIRNYA… saya menulis lagi.

Sempat berkunjung dan membaca-baca postingan beberapa blog milik teman-teman saya dan agaknya membuat saya juga sedikit termotivasi untuk wordpressing lagi. Alhamdulillah.

Bukan tipikal orang yang senang menulis dengan konsep dan cenderung random maka kali ini saya juga ingin bercerita tentang hal random lainnya yang saya lakukan. Bukan cuma soal tulisan yang random tapi memang sebenarnya ‘fitrah’nya saya sepertinya juga pribadi yang random yang sudah mendapat serifikat random dari banyak orang.

Sudah terbukti sejak kecil memang. Di segala hal. Mungkin karena dari kecil saya dibiasakan orangtua terutama Ibu saya untuk mencoba segala hal yang ingin saya coba. Ikut segala kursus yang bisa saya ikuti. Mulai dari menari, lukis, gitar, electone, drum, les bahasa (jepang jerman inggris) dan *sudah pasti* tak ketinggalan les pelajaran juga (bukan karena disuruh tapi karena memang saya mau. Di masa itu, jikalau boleh saya kenang, ternyata saya dulu lebih ‘senang belajar’ dari pada saya yang sekarang. Huffness.) Continue reading “Kursus Jahit”

Schon Lange Nicht Gesehen

Guten Morgen!

Harusnya saya kembali menulis itu malam kemarin tapi apa daya. Terlalu sibuk menata hati.

Setelah sekian lama tidak kalut akhirnya kalut lagi. 

Satu hal yang saya pelajari dari yang sudah sudah. Setiap perubahan itu pasti selalu ada fase keterkejutannya.

Saat ini saya berada di fase itu. Tapi saya berharap sama seperti sebelumnya. Biar waktu saja yang membantu self healing.

Karena ketika saya mampu melewati itu, nanti juga saya pasti akan ikhlas sendiri dan belajar menerima. Begitu kan siklusnya? Iya. Dulu sih begitu.

Apapun keputusan yang sudah terjadi, semoga bisa menjadi pelajaran ke depannya.

Menyesal? Itu biasa sepertinya. Tapi mungkin penyesalan itu bisa menjadi batu loncatan ke depannya. Bisa saja ketika keputusan itu tidak terjadi, selamanya semua pihak akan saling tersakiti.

Memang semua yang dipaksakan dan semua yang berlebihan itu tidak baik.

Tidak mudah buat ikhlas. Dusta sekali ketika saat ini saya bilang saya ikhlas. Sama kejadiannya seperti tahun 2009 dulu saat pertama kali “sesuatu” berinisial MK itu datang. Jangankan dunia saya. Dunia orang-orang disekitar saya juga pun jungkir balik.

Tapi lihat sekarang? Everything is under control.

Semoga ini juga.

Saya tidak akan pernah berhenti berdoa.

Das ist Alles.

Just. One. Regret.

Dear God, 

may I regret about a decision which i’ve been made 3 months ago?

Actually. Sometimes i’m glad to learn something new but still…

every seconds I thought about it, I always told my self, “Dude. Why are you taking that decision? You’ll be more happy without it.”

And Dear God

I hope I will NEVER EVER make another decision that I regret later.

Amin.

 

Hujan di Pagi Hari

Sekarang tanggal berapa? Aku coba lihat kalender dulu. Oh tanggal 28 Desember 2012.

Hari ini aku lebih dini memulai hari dan lebih cepat selangkah daripada orang-orang lainnya membuka lembaran baru.

Pagi subuh yang tenang ini, merasa kasihan pada embun yang setia datang setiap pagi tanpa mengeluh namun tetap mampu memberi manfaat pada wajah-wajah yang berharap dengan ramahnya pagi, hujan pun turun. Bukan hujan yang sama dengan hujan yang biasa turun. Tapi hujan yang berbeda.

Hujan kali ini tidak memunculkan pelangi. Hujannya memang masih menyiratkan kesedihan, tapi yang ini adalah bukti untuk hari yang lebih baik.

Tetap. Hujan di pagi hari ini pertanda lembaran baru untuk seseorang. Mungkin dua orang? 🙂

Yah apapun. Hujan di pagi hari tanggal 28 Desember 2012 ini bisa menjadi sejarah yang bisa diingat. Bukan sejarah yang akan tercatat di buku pelajaran. Tapi sejarah dimana nasib seseorang kedepannya akan maju atau justru akan tertinggal.

Tinggal tunggu waktu.