Love and Hate Relationship (Tribute to YP51A MBA-ITB)

Saya nggak pernah jelas sih bagaimana cara kerja memori. Tapi, sore ini, potongan-potongan kenangan berlalu lalang di pikiran saya.

Sedari dulu saya adalah satu orang yang bisa dibilang apatis terhadap sekitar. Sungguh. Saya tidak pernah begitu peduli dengan sekitar atau orang bilang saya nggak pernah enganged dalam suatu komunitas. Ngerasain sih. Saya nggak pernah merasa terikat terhadap sesuatu lingkaran sosial, baik itu grup waktu SD, SMP, SMA, S1 sampai apoteker.

Mungkin memang ada yang salah dengan saya yang terlalu individualis ini. Rasanya tidak pernah ada hal yang begitu istimewanya sampai saya harus enganged dengan komunitas yang saya pernah terlibat di dalamnya. Maksudnya secara keseluruhan. Selama ini saya hanya merasa punya chemistry dengan segelintir atau sekelompok kecil saja. Dan berhubung saya orang yang bisa dibilang loyal, jadi saya biasanya betah dan stay di kelompok itu saja. Contohnya saja ketika zaman S1, orang-orang yang buat saya istimewa dan mampu membuat saya tetap ingin menjaga komunikasi dengan mereka itu bisa dihitung dengan jari.

Tapi, mendadak sore ini saya ingin menulis tentang mereka yang entah kenapa mendesak saya untuk menulis di sini. Mungkin karena mereka berbeda. Jika jawaban saya hanya sekedar “biasa aja” ketika ditanya dan mengingat orang-orang yang pernah bersisihan takdir dengan saya dulu mulai dari SD, SMP, SMA, S1 sampai Apoteker, tapi tidak kumpulan yang ini.

Mungkin tulisan ini di hari depan sudah tak berarti apa-apa lagi seiring waktu, tapi rasanya sekarang mereka punya makna buat saya. Sesuatu yang selama ini sejujurnya tidak pernah saya pikirkan. Mengingat saya hanya peduli pada lingkaran kecil saya. Lagipula, tidak ada untungnya memang mereka diingat oleh saya. Saya bukan siapa-siapa. Bukan Pidi Baiq yang semua orang pasti senang jika diingat dalam tulisannya. Bukan juga Dee Lestari. Tapi setidaknya, saya niat mengabadikan perasaan yang sekarang dalam tulisan. Bahkan sekedar untuk bisa menyelesaikan tulisan ini saja, saya harus dibantu lagu Bondan ft Fade 2 Black untuk bisa membantu saya memelihara memori yang sedang berkelebat sampai tulisan ini selesai.

Kumpulan yang saya maksud ini adalah  teman-teman satu kelas selama saya menempuh pendidikan magister saya, YP51A, yang sebagian besar sudah wisuda. Karena mereka sedikit berbeda dan ada banyak hal yang ingin saya ingat tentang mereka, sekalipun kadang saya mengingat dengan rasa kesal atau pun benci. Yaa.. love and hate relationship-lah they said.

Kumpulan yang ini buat saya berkesan. Kadang, saya benci dan kesal pada mereka (yah.. walaupun hanya gara-gara beberapa oknum), tapi kadang saya juga senang bersama mereka.

PhotoGrid_1471861111481
YP 51 A

Awalnya saya memutuskan untuk akhirnya melanjutkan S1 di MBA – ITB adalah karena saya tidak begitu mampu untuk mendapatkan beasiswa keluar dan juga tidak punya cukup biaya sendiri untuk kuliah (di Jerman). Tidak ada ekspektasi apapun ketika akhirnya saya memulai kuliah di sini. Pikiran saya waktu itu, paling juga kayak yang udah-udah. Kuliah pulang, nugas, tesis, wisuda.

Tapi kiranya ada yang istimewa. Saya super keteteran selama berkuliah. Karena oh karena, ini jurusan sosial pertama yang saya tekuni. Selama ini, saya cuma akrab dengan dunia sains atau eksak. Dan kulturnya ternyata beda jauh. JAUH.

Untungnya, sistem belajar di sini lebih didominasi diskusi dan diskusi berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Sindikat. Sindikat saya sendiri terdiri orang-orang yang berbeda latar belakang. Ada yang dari akuntansi Unpad, teknik mesin UI, Teknik Elektro NTU, dan manajemen Unpar. Beda kepala, beda isi. Beda orang, beda karakter. Sumpah super beda. Tapi satu hal yang saya tahu, orang-orang ini adalah orang-orang yang senang bersosialisasi dan senang berbaur. Lingkaran kecil saya ini akhirnya berkembang makin lama menjadi lingkaran yang lebih besar.

Saya sering ribut dengan salah seorang teman kelompok saya. Orangnya pintar dan perfeksionis dan jangan ditanya. Dua semester awal satu kelompok dengan orang yang sama, itu rasanya sangat bikin frustasi. Untuk orang seperti saya yang cukup sulit berbaur dengan orang lain, ini namanya neraka. Tapi seperti orang-orang bilang, cuma butuh waktu untuk bisa terbiasa. Ribut mulut pun akhirnya juga jadi hal yang biasa buat saya. Terlebih, saya memang hampir selalu butuh teman yang menyebalkan ini. Karena, mau tidak mau harus diakui, orangnya pintar dan sejujurnya bisa diandalkan. Untungnya, teman kelompok yang lain juga bisa membuat saya betah berada dalam lingkaran yang sama selama satu tahun. Dari mereka sih memang akhirnya saya mulai belajar sambil santai-santai. Dulu kan kalau belajar ya kumpul di suatu tempat langsung serius. Kalau yang ini, belajar juga sambil jalan-jalan. Itu juga mungkin yang bikin kita akhirnya jadi lumayan akrab selama masa kuliah. Temanmu adalah saudaramu. Ketika saya lupa, mereka yang mengingatkan saya. Ketika saya tidak mengerti, mereka juga yang mengajarkan.

 

PhotoGrid_1471861264271.jpg
My syndicate

Yang paling berkesan adalah ketika soal tugas dan juga hmmm ujian. Ini bukan contoh yang baik untuk ditiru tapi sejujurnya ini berkesan karena ini adalah kali pertama saya merasakan yang seperti ini. Zaman S1, semua hal dikerjakan sendiri. Teman akan membantu kalau kamu benar-benar butuh. Itupun ketika mereka sudah mampu membantu dan kamu harus meminta.

Tapi di sini, bantuan justru ditawarkan. Dilelang. Ketika satu orang sudah selesai mengerjakan tugas, dengan sukarela si oknum akan mengunduh tugasnya ke goggle drive kelas agar yang lain yang tidak paham bisa menjadikan acuan. Dan itu berlangsung selama dua tahun. Mereka juga terbuka untuk konsultasi. Dan kebiasaan mengingatkan adalah hal yang lumrah di sini. Jika ada informasi, bisa dipastikan tidak akan ada satu pun mahasiswa yang akan melewatkannya, kecuali memang anaknya nggak bisa diakses karena hp nya rusak mungkin. Kadang kompetitif juga sih (beberapa oknum) tapi mereka yang kompetitif ini juga sebenarnya sportif.

Lalu, untuk pertama kalinya seumur hidup, ketika ujian dan mungkin iba dengan saya yang bermenung memikirkan jawaban, teman di sebelah saya waktu itu yang juga teman satu sindikat saya memberanikan diri mencolek bahu saya dan sesi diskusi pun berlangsung. Lebih ke semacam tutorial. Iya. Dia menjelaskan pada saya tentang apa yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan soal ujian. Bahkan sempat-sempatnya si teman ini berbicara soal konsep agar saya bisa paham.

Lalu, gerombolan ini senang sekali berkumpul. Saya nggak ngerti lagi. Maksud saya, berkumpulnya seringnya bukan hanya satu sindikat. Ngumpul sindikat juga pada sering sih, cuma makin lama, ngumpulnya makin masiv. Doyan banget jalan-jalan dan makan-makan. Sekali ada rencana, pasti selalu ngajakin sekelas. Makanya, nggak jarang akhirnya ujung-ujungnya sekelas pada ngumpul di suatu tempat baik itu cuma makan-makan doang atau jalan-jalan atau cuma sekedar karaoke. Udah gitu, ajakannya biasanya menular. Kalau ada teman satu kelompoknya yang nggak datang, pasti suka diajakin baik itu maksa ataupun gentle reminder aja.

Dari pihak kampus pun, juga ngebantu kita untuk negabur sih. Lumayan sering ngadain kuliah lapangan dan program semacam NLP yang bikin kita akhirnya lumayan saling kenal dan membaur.

Gimana ya. Buat saya, ini jarang aja terjadi. Buat saya, terlepas dari memang saya orang nya tidak selalu bisa membaur, tapi kumpulan ini adalah kumpulan pertama yang sukses membuat saya setidaknya pernah membaur dan merasa enganged dengan mereka.

PhotoGrid_1471860836203
Ciwi – ciwi Arisan Brondong

Mumpung masih sober, saya akhirnya cuma bisa doain. Semoga yang sudah wisuda, segera menemukan pekerjaan yang cocok dan sesuai passion dan yang sudah kerja semoga betah dengan lingkungan barunya. Untuk para pejuang tesis, seperti saya, semoga kita dilancarkan tesisnya dan bisa segera wisuda.

Yang sudah pada menikah, langgeng dan bahagia ya. Maupun yang mau nikah, semoga dilancarkan.

Dimana pun kita, semoga sukses selalu menyertai. Aamiin.

P.s Maaf makin lama makin nggak jelasm soalnya kiranya lama-lama capek juga nulis. Tapi kalian berharga kok untuk selalu saya kenang 🙂

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s