Absolute Random

Dengan dua jempol yang sibuk bergerak pada layar handphone dan tatapan yang fokus ke layar, bukan berarti otak saya sepenuhnya ada pada layar ukuran kurang lebih 7cm x 12cm yang radiasinya lama-lama bisa bikin mata saya perih. Sama sibuknya dengan dua jempol saya, otak saya juga seakan tidak mau kalah untuk ikutan sok sibuk mikirin banyak hal, yang pada akhirnya membuat saya bangun dari kasur dan akhirnya berpindah ke layar yang lebih besar yang saya juga tidak yakin ukuran layar laptop ini berapa inch.

Ada yang menganggu dan saya cuma ingin mengadu.

Tidak ada teman yang ingin saya ganggu tentang curcol-an kali ini karena saya tahu pikiran random yang berangkat dari sebuah sekelumit kejadian di masa lalu yang tidak penting ini juga tidak cukup berharga untuk mereka dengarkan.

Belakangan, di saat saya berusaha di setiap malamnya mencoba menutup mata untuk beristirahat, di saat itu pula otak saya semakin menentang untuk berhenti sejenak. Mungkin memang sudah dari lahir saya dianugrahi bakat pemberontak yang seringnya jarang tersalurkan dan berujung pada kekacauan batin. Bahkan ketika ingin memberontak pun, sebagian diri saya yang tidak ingin memberontak juga memberontak.

Sebenarnya ada banyak yang tadi sempat melintas di pikiran saya. Terlebih setelah sebuah kontak telepon saya tutup. Tapi yang satu ini adalah satu-satunya yang bisa saya utarakan di sini dengan harapan sedikitnya beban pikiran bisa berkurang.

Adalah sebuah kejadian yang mengusik ini terjadi bahkan mungkin lebih dari setahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat punya keinginan untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jerman yang pada akhirnya membawa saya menjadi seorang siswa kursus di sebuah institut bahasa dan kultur Jerman yang terkenal di Bandung. Saya bukan ingin bercerita soal saya yang akhirnya pasang bendera putih pada keinginan saya untuk S2 di Jerman. Bukan. Sudah lama saya ‘tutup buku’ untuk itu. Tapi ini soal menulis.

Continue reading “Absolute Random”

Advertisements