W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes

W two worlds  (source: google image)
W two worlds
(source: google image)
Screen shoot dari youtube :)
Screen shoot dari youtube ūüôā

Sebenarnya saya bukan pecinta fanatik drama korea, apalagi dulu waktu masih zaman S1. Ketika teman-teman sedang heboh-hebohnya dan gandrung dengan boysband atau girlsband korea, saya mah nggak pernah tertarik sekalipun sering banget dicekokin korea. Bukan cuma boysband dan girlsband sih, drama korea juga. Jadi dulu itu, cuma sekedar tahu ini band apa itu band apa, siapa personilnya, tapi nggak pernah yang benar-benar ngikutin. Untuk sebuah alasan tertentu, saya nggak pernah bisa benar-benar suka dengan artis-artis korea, terutama boysband.

Anehnya, sekarang-sekarang malah bisa dibilang lumayan mengikuti trend drama korea terbaru. Nggak semua sih. Cuma beberapa, tapi ini juga sudah kemajuan karena dulu sama sekali enggak. Sekalinya dulu pernah ikutan nonton drama korea yang diadaptasi dari komik jepang, pada akhirnya berakhir dengan kecewa karena saya jauh lebih puas dengan versi adapatasi yang Jepang. Jadi, ujung-ujungnya nonton drama korea (drakor) nggak pernah punya ekspektasi lebih. Just for fun aja sih ujung-ujungnya karena memang seringnya kecewa. Tapi, itu dulu sih. Kalau dulu cuma taunya my girlfriend is a gumiho, sekarang lumayanlah tau lebih banyak. Nggak ngerti ya, memang sekarang-sekarang drakor lagi bagus-bagusnya atau memang saya yang mulai terbuka buat nonton. Belakangan malah suka nonton drakor apalagi kalau bintang tamunya pernah muncul di running man. Sering sih nonton cuma gara-gara alasan ini. Contohnya My love from another star, Moon that embraces the sun, DOTS, beautiful gongshim, Let’s fight ghost, dan lain-lain. Iya, saya cuma nonton drakor yang hits aja soalnya biar nggak kecewa-kecewa banget. Karena kan, kalau drakornya hits, artinya ya bisa dibilang ada faktor istimewa yang dipunyai drakornya. Ada drakor yang akhirnya saya suka, ada juga yang sebenarnya so-so.

Continue reading “W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes”

Advertisements

Absolute Random

Dengan dua jempol yang sibuk bergerak pada layar handphone dan tatapan yang fokus ke layar, bukan berarti otak saya sepenuhnya ada pada layar ukuran kurang lebih 7cm x 12cm yang radiasinya lama-lama bisa bikin mata saya perih. Sama sibuknya dengan dua jempol saya, otak saya juga seakan tidak mau kalah untuk ikutan sok sibuk mikirin banyak hal, yang pada akhirnya membuat saya bangun dari kasur dan akhirnya berpindah ke layar yang lebih besar yang saya juga tidak yakin ukuran layar laptop ini berapa inch.

Ada yang menganggu dan saya cuma ingin mengadu.

Tidak ada teman yang ingin saya ganggu tentang curcol-an kali ini karena saya tahu pikiran random yang berangkat dari sebuah sekelumit kejadian di masa lalu yang tidak penting ini juga tidak cukup berharga untuk mereka dengarkan.

Belakangan, di saat saya berusaha di setiap malamnya mencoba menutup mata untuk beristirahat, di saat itu pula otak saya semakin menentang untuk berhenti sejenak. Mungkin memang sudah dari lahir saya dianugrahi bakat pemberontak yang seringnya jarang tersalurkan dan berujung pada kekacauan batin. Bahkan ketika ingin memberontak pun, sebagian diri saya yang tidak ingin memberontak juga memberontak.

Sebenarnya ada banyak yang tadi sempat melintas di pikiran saya. Terlebih setelah sebuah kontak telepon saya tutup. Tapi yang satu ini adalah satu-satunya yang bisa saya utarakan di sini dengan harapan sedikitnya beban pikiran bisa berkurang.

Adalah sebuah kejadian yang mengusik ini terjadi bahkan mungkin lebih dari setahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat punya keinginan untuk bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Jerman yang pada akhirnya membawa saya menjadi seorang siswa kursus di sebuah institut bahasa dan kultur Jerman yang terkenal di Bandung. Saya bukan ingin bercerita soal saya yang akhirnya pasang bendera putih pada keinginan saya untuk S2 di Jerman. Bukan. Sudah lama saya ‘tutup buku’ untuk itu. Tapi ini soal menulis.

Continue reading “Absolute Random”

Refleksi

Bulan apa sih ini?

Terakhir posting kapan sih?

Rasanya terakhir kali¬†posting ziih¬†(zih banget nih?)¬†sudah bertekad untuk rutin tapi¬†ya gitu deh… bukan cuma koran yang punya, saya pun juga punya wacana. Wacana¬†doang.

Beda waktu, beda tren, beda hobi.

Semua dicobain. Sebut deh apa yang belum pernah saya coba. Hiperbola sih.  Cuma ingin memberi gambaran kalau saya orang suka suka mencoba. Mulai dari musik, bahasa, menjahit, olahraga segala rupa, baik itu fitness, yoga, muay thai, renang, tenis, basket, jogging apa punlah. Semua dijabanin.

Tapi ada satu hobi yang dari dulu sejak SMP hilang timbul tapi anehnya ya pasti selalu muncul. Ya menulis.

Nggak pernah bilang jago sih. Namanya juga hobi. Tapi di setiap musiman muncul hobi baru pasti secara random suka ingat kalau saya suka menulis. Untungnya ada wordpress, jadi kadang suka ingat lagi sih walau di sini nulisnya juga kacangan.

Ya, semoga. Mumpung sedang ingat, di hari depan semakin bisa terealisasikan lah hobi saya yang walau lama tapi nggak ada progressnya.

Semoga juga samkin banyak latihan, bisa semakin mahir dan semakin cihuy.

Salam apa aja boleh,

Rini.

Kursus Jahit

After a long time of this hiatus

AKHIRNYA… saya menulis lagi.

Sempat berkunjung dan membaca-baca postingan beberapa blog milik teman-teman saya dan agaknya membuat saya juga sedikit termotivasi untuk wordpressing lagi. Alhamdulillah.

Bukan tipikal orang yang senang menulis dengan konsep dan cenderung random maka kali ini saya juga ingin bercerita tentang hal random lainnya yang saya lakukan. Bukan cuma soal tulisan yang random tapi memang sebenarnya ‘fitrah’nya saya sepertinya juga pribadi yang random yang sudah mendapat serifikat random dari banyak orang.

Sudah terbukti sejak kecil memang. Di segala hal. Mungkin karena dari kecil saya dibiasakan orangtua terutama Ibu saya untuk mencoba segala hal yang ingin saya coba. Ikut segala kursus yang bisa saya ikuti. Mulai dari menari, lukis, gitar,¬†electone, drum, les bahasa (jepang jerman inggris) dan *sudah pasti* tak ketinggalan les pelajaran juga (bukan karena disuruh tapi karena memang saya mau. Di masa itu, jikalau boleh saya kenang, ternyata saya dulu lebih ‘senang belajar’ dari pada saya yang sekarang. Huffness.) Continue reading “Kursus Jahit”

Monolog : Krisis Identitas

Inilah waktu dimana saya benci untuk berada dalam kondisi sendirian. Karena waktu-waktu seperti ini menjadi pemicu hebat dimana si otak bisa secara semena-mena memikirkan hal yang mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk saya secara pribadi memikirkannya. Contoh nyatanya ya seperti saat ini.

Sebenarnya. Mau jadi apa sih saya ini ke depan?

Jangankan Ayah, saya sendiri juga bingung ke depan saya akan menjadi apa.

Sudah. Saya sudah punya rencana. Tapi… beginilah.

Merasa diri sedang berjalan di sepanjang lorong yang gelap, mencoba mencari jalan keluar menuju cahaya. Di suatu saat, saya merasa sedang berjalan membawa senter dan obor. Di sisi lain, saya hanya merasa di temani sebatang lilin kecil yang bahkan jarak pandang yang jelas tidak sampai satu meter ke depan.

Dengan sifat dasar terlahir sebagai pemalas dengan banyak mimpi ini, memang terkadang jangankan berusaha, berpikir saja sulit sekali rasanya. Ya… seperti sekarang ini.

Continue reading “Monolog : Krisis Identitas”

Pernah?

Pernah tidak menulis pada saat hati sedang berada dalam puncak kebahagiaan?

Saya, pernah.

Pernah tidak menulis pada saat bingung dan ingin protes?

Saya, pernah.

Pernah tidak menulis pada saat perasaan sedih dan hancur lebur?

Saya, pernah. Ya ini saya menulis. Singkat. Karena saya tidak tahu caranya melampiaskan emosi sekarang selain ke tulisan. Sekalipun salah satu penyebab hancur leburnya perasaan itu juga terkait tulis-menulis salah satunya.

Tentu saja juga karena yang lain.

Yang jelas. Saya menulis saja. Apapun rasa, apapun masa.

Nyesek

Nyesek itu adalah ketika butuh sesekali teman untuk curhat dan bercerita tapi nggak ada yang stand by…

Ada banyak orang tapi nggak ada yang bisa dipercaya dan di andalkan.

Ada yang diandalkan tapi enggak ada saat dibutuhkan.

Itu namanya… Nyesek.

Unnamed

Subuh sudah terdengar. Semalaman walau satu detikpun, mata tak terpejam.

Bukan lelahnya badan yang menyiksa. Tapi batin. Setiap satu detik saja saya bingung tanpa ada yang harus dilakukan. Maka disaat bersamaan juga, nama itu muncul. Dengan sendirinya. Begitulah. Saya ingin membunuh waktu dengan terus menyibukkan diri.

Seandainya tidur tidak sesulit itu. Mungkin tidak seperti ini.

Newton punya hukum ke – 2 kan?
F = m.a
Dengan F = gaya, m = massa, a = percepatan.

Gaya berbanding lurus dengan massa.

Sama seperti subuh ini.
Massa-nya semakin lama semakin berat membebani di tambah banyak faktor yang meningkatkan percepatan.

Akhirnya gaya yang akan diberikan pun besar.

Dan disinilah akhirnya gaya itu dalam bentuk yang membuncah.

Dan gaya yang diberikan itu berujung pada satu kata dan satu kali pencetan tombol saja.

“Ry” lalu enter.

Dan F kembali ke 0.

Semoga pesan itu tidak sampai.

Secret Admirer (Sebuah cerita pendek)

Written by : Rini Amelia

Secret Admirer

Aku masih setia duduk disini. Setiap hari selasa pukul 16.00 di meja sudut nomor 12. Kedatanganku hari ini mungkin adalah kedatangan kesekian ratus kalinya sejak empat tahun yang lalu. Tidak pernah terpikir untuk melewatkan sekali saja kesempatan duduk di Café ini kecuali jika keadaan memang tidak memungkinkan. Bagi kebanyakan orang, kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas ini mungkin adalah hal yang cukup bahkan sangat membosankan untuk dijalani. Memesan menu yang bervariasi mungkin bisa menjadi salah satu solusi pemecah kebosanan saat melakoni kebiasaan ini. Tidak bagiku. Tidak juga bagi hatiku. Tak ada kata bosan barang sedetikpun. Tak pernah terpikir barang satu kalipun untuk bisa melewatkan kesempatan melihat dia. Pria muda berusia 29 tahun dan berbadan tegap pemilik Café ini. Tidak satu detikpun aku lewatkan kesempatan menatap setiap langkah Pria itu menuju keluar Café favoritku ini. Kuberitahu, namanya Rafka. Aku… adalah pemuja rahasianya. Bukan sejak empat tahun sejak batu pertama ditancapkan sebelum berdiri utuhnya Café ini. Lebih lama dari itu. Nanti tanpa diminta aku pasti dengan sukarela mengotomatisasi pikiranku untuk bercerita. Tentang dia. Tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah bahwa aku telah mengaku aku mencintainya sekalipun hanya dari sudut Café ini setiap hari Selasa.

Dari balik kaca jendela Caf√© di meja nomor 12 ini, dengan jelas aku dapat melihat langkah tegasnya menuju parkiran khusus miliknya yang diberi tanda ‚ÄúParkir Khusus Pemilik Caf√©‚ÄĚ. Papan itu berdiri gagah tepat di depan mobil CRV putih miliknya. Sama seperti pemiliknya, siapapun tahu bahwa mobil itu terawat dengan baik, mengkilap tanpa goresan sedikitpun. Tatapan para wanita yang sebagian besar singgah sepulang kantor tertuju pada satu fokus yang menyiratkan tatapan kagum dan terpesona. Sama seperti tatapanku. Tatapan candu pada pria pemilik Caf√© itu. Rafka. Kemeja biru yang dipakai Rafka sudah lebih dari cukup untuk menunjang pesonanya. Lengan kemeja yang panjang digulung sampai siku. Kurang maskulin apa? Para wanita yang akan berjalan berpapasan dengan Rafka terhenti sebentar dan berbisik dengan teman disampingnya. Rafka tak peduli. Memang tak pernah peduli. Aku sudah tahu itu. Sejak dulu aku mengikrarkan diri menjadi pengagum rahasianya yang setia pun, dia tak pernah peduli dengan para gadis yang menatap bahkan meneriakinya. Meneriaki layaknya bintang yang sedang bersinar. Di masa lalu, semua orang bisa mengira, pesonanya sama memukaunya. Dia bintang lapangan. Pemain basket pujaan hati wanita. Aku, sebagai penggemarnya nomor satu, tak sekalipun melewatkan pertandingannya. Masih sama seperti saat ini, setia memojok di sudut jarak pandang setiap orang. Aku tak pernah peduli tak ada yang peduli. Sama seperti Rafka yang tidak peduli pada tatapan para gadis di sekitarnya. Kalau memang harus jujur, aku senang dia tak peduli, tak pernah peduli.

Aku menopangkan dagu ketika melihat mobil CRV putih miliknya memudar menjauh dari pandangan. Bukan kali ini saja, aku selalu mampu menunggingkan senyum saat kulihat para wanita yang berbisik tadi kecewa Rafka tak menyadari kehadiran mereka. Aku tersenyum. Merasa menang dan tenang bahwa idola nomor satu itu masih sama seperti dulu. Apa yang dia pedulikan? Apa yang mampu mengarahkan pandangannya? Continue reading “Secret Admirer (Sebuah cerita pendek)”