Lesson learned from ‘Rich Man, Poor Woman’

Ini adalah tentang sebuah drama Jepang yang dibintangi Oguri Shun dan Ishihara Satomi. Drama yang sudah cukup lama sebenarnya. Tahun 2012. Hanya saja, saya baru bisa selesai menonton sekarang-sekarang ini mengingat bandar drama Jepang yag biasa memasok sudah pindah kota, sementara teman-teman di kampus doyanannya drama Korea *yang sebenarnya juga belakangan saya ikutin behehehehehek*

rich_man_poor_woman-p11
Poster Film ‘Rich Man, Poor Woman’ dari sumber onigirilove.com

Karena belakangan saya lumayan akrab dengan salah satu situs streaming online gratis untuk nonton drama maupun film, baik itu Jepang, Korea, China, Taiwan bahkan Thailand, jadi kembalilah pasokan drama yang buat ditonton mendadak banyak. Lumayan pengalihan yang keterusan.

Banyak drama yang lumayan sudah ditonton di sana sih cuma akhirnya memilih drama ini buat diulas di sini karena banyak lesson learned yang bisa saya ambil. Bukan cuma pelajaran dari dramanya sendiri tapi bahkan juga dari terjemahannya bahasa Inggris si dramanya. Edyaaaannnnn ūüėÄ Walaupun yaa… sejujurnya lumayan ketipu sih. Mengira ini drama pure romance atau cinta-cintaan yang cuma tinggal nonton. Eh, kiranya mainly tentang bisnis dan bromance yooooww. Cinta-cintaannya baru kental di tiga episode terakhir. (Btw, ini drama ternyata ada episode 0-nya yang cuma dua belas menit saja dan juga episode semacam episode spesialnya yang berdurasi dua jam yang belum saya tonton yang saya yakin ini yang episode spesial pasti full cinta-cintaan).¬† Yang bikin saya akhirnya memutuskan untuk menonton juga… hanya karena sebuah komentar yang di mata saya kok malah seperti menantang.

Ceunah kurang lebih,

“Tonton aja. Mana ada drama Oguri Shun yang mengecewakan.”

Ya tak ladeni.

Dan benar saja, Pemirsa. Walaupun ini drama bukan my cup of tea karena cerita bisnis-bisnis-an, saya pribadi sih menikmati dramanya.Biar pun judulnya mainstream, tapi ide ceritanya unik sih.

Sesuai dengan judul postingan yang saya tulis, di sini saya bukan ingin cerita sinopsisnya tapi tentang kesan yang saya dapat dan pelajaran singkat dari film yang buat saya ingat mata kuliah Business Strategy waktu semester 2 euy (yang udah rada ngarep dapet nilai bagus banget eh tapinya sedikit meleset. Behehehek). Tapi pasti sinopsisnya bakal kebawa-bawa sih otomatis.

Secara singkat, dari si drama ini saya beneran kayak dikasih lihat tentang Business Life Cycle. Taunya sih dulu cuma ada 4 Tahap aja. Start-up, Growth, Maturity, Decline.

Start-up itu ya seperti namanya. Tahap di mana si bisnis baru mulai berjalan. Tahapan sulit yang menentukan si bisnis akan bertahan atau tidak. Dari cerita-cerita yang saya dengar, biasanya kalau bisnisnya nggak begitu kuat, tiga tahun bahkan kurang juga sudah banyak yang mundur. Nggak kuat dengan cobaan cash flow-nya yang amburadul. Dari drama ini, tidak begitu dijelaskan dengan panjang sih. Hanya terkadang suka ada kilas balik di mana si Oguri Shun dan co-founder perusahannya, Asahina, memulai bisnisnya dari sebuah tempat yang kecil beuuud kayak garasi. Tapi akhirnya survive.

Growth itu tahap di mana akhirnya setelah berhasil survive. Si bisnis ini akhirnya mulai bisa dapet ancer-ancer dan fondasinya sudah mulai kuat. Jadi sekarang tujuannya sudah lebih tinggi lagi. Untuk berkembang. Dari drama sih, akhirnya karena berhasil bertahan dan perusahaan di biadang IT pun yang mana memang semakin zaman berkembang semakin dibutuhkan sih ya, perusahannya malah berhasil masuk ke bursa saham dengan nilai capital-nya kalau tidak salah $104Mill. Bombastis-lah ceritanya buat perusahaan yang baru dibangun beberapa tahun. Namanya juga drama. Yekan? Lalu pindah ke kantor yang lebih besar dan lama-lama pegawainya pun bertambah.

Maturity ini tahap di mana bisnisnya ‘mateng’ gitu. Tahap yang setiap bisnis harus hati-hati. Tahap di mana pekerjaanya mulai seperti rutinitas yang membosankan. Stagnan. Kalau di drama juga di gambarkan sedikitlah. Ya gambaran tentang pekerjaanya pegawai dan bos-nya di kantor. Sebenarnya tahap yang saya pelajari setelah maturity itu selanjutnya decline.¬†Hanya ketika¬†gugel gugel sikit, ada tahap yang namanya Expansion. Expansion adalah tahap di mana bisnis akhirnya setelah matang berusaha untuk jadi lebih baik lagi. Mulai muncul inovasi-inovasi baru yang kalau beruntung bisa menambah added value perusahaan atau bisnisnya. Tapi kadang harus berhati-hati karena kalau tidak jeli dan berhati-hati, harus siap-siap menerima hasil yang bisa jadi incline (Alhamdulillah) atau malah decline. Ini tahapan yang nenurut saya paling bikin lelah karena perusahaan harus terus berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik di kelasnya. Nah, si drama ini kebanyakan fokus di cerita ini. Karena perusahannya sudah settled dan mereka terus berusaha keras unbuk berinovasi. Dan di sinilah bibit-bibit konflik mulai terlihat. Oguri Shun punya ide untuk menciptakan program Personal File Jelasnya seperti apa, itu dijelaskan dengan sangat jelas sejelas-jelasnya di dramanya. Awal mulanya dari apa juga juga dijelaskan. Intinya ini program penting banget di drama ini.

Decline adalah tahap paling horor yang tidak ada satu pun pebisnis atau pun perusahaan yang ingin mengalaminya. Drama ‘Rich Man, Poor Woman’ ini konfliknya di sini. Ada masalah besar terkait dengan program Personal File project itu yang akhirnya membuat Oguri Shun (Lupa ngasih taulah, namuanya di drama teh Toru Hyuga) mundur dari perusahaan lalu Asahina naik jadi bos-e. Sejak ganti kepemimpinan, justru bukannya naik malah turun performance si bisnisnya. Tapi ini bagian seru-serunya sih. Di drama ya, bukan di kehidupan nyata. BERITA BAIKNYA adalah tahap ini kalau pun terjadi bukan berarti akhir dari segalanya. Setidaknya begitu yang bisa saya tangkap dari dramanya. Biar pun perusahaan si Oguri Shun jatuh dan nyari di akuisisi oleh perusahaan China ceritanya dan si Asahina akhirnya ‘dipaksa mundur’, Si Oguri Shun akhirnya ambil alih lagi perusahaan dan di sinilah cerita perjuangan kembali untuk memulihkan perusahaannya kembali seperti semula yang menarik perhatian saya. Ya, saya mah senengnya yang bahagia-bahagia ajalah.

Tahap bisnis ini tidak selalu dialami secara berurutan oleh sebuah bisnis atau perusahaan. Cuma umumnya siklusnya begini. Mengingat saya belajarnya juga dari drama, dan teori dan praktek (di drama) sesuai, jadi diulasnya ya urut seperti ini. Kalau di gambar grafik, siklusnya akan seperti ini:

 

lifecycle505w2
Gambar diambil dari thepresidentscouncil.org

Sebenarnya banyak pelajaran moral yang saya juga dapatkan hasil dari nonton drama ini, kayak ternyata manusia itu punya dua sisi. Sisi baik dan juga sisi jahat. Tinggal bagaimana si manusianya memanage untuk bisa menjadi orang yang baik. Karena ada banyak hal yang bisa jadi trigger untuk orang berubah menjadi seseorang yang kurang baik. Yang penting mah kalau pun kita sempat salah, kita sadar dan kita belajar.

Dan lagi dikasih tahu bahwa hard work never betrays.

Penting sih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s