Love Actually

Dari sejak hampir dua puluh tujuh tahun saya hidup, nyaris hampir empat belas tahun terakhir selalu ada jejak menulis yang saya buat. Ya, tentu saja tak pernah selesai karena alasan yang itu-itu saja. Kalau bukan karena tulisan terlalu memalukan untuk dilanjutkan, ya biasanya writer’s block.

Terlepas dari gaya bahasa saya yang sangat amatiran, saya tetap saja menaruh minat untuk hobi yang satu ini. Secara spesifik, saya sangat menikmati menulis cerita fiksi, khususnya romance. Inginnya sih packagingnya sesuai umur, tapi apa daya setiap dibaca, pasti harus berbesar hati bahwa gaya menulis saya mungkin setara dan cocok untuk usia remaja. Namanya juga bukan profesional. Jadi, saya mencoba berbesar hati. Mungkin saya hanya butuh waktu untuk terus menulis dan belajar dan banyak membaca agar semakin lama terus ada peningkatan dalam kualitas penulisan saya. Pun, juga semakin mengasah otak saya untuk menulis cerita yang menarik.

Dan sebuah pencapaian adalah untuk pertama kalinya sejak empat belas tahun saya menulis fiksi terutama, akhirnya ada satu cerita yang berhasil saya selesaikan. Cerita fiksi yang masih tentang cinta. Iya, topik yang selalu sama karena selain memang itu yang paling mudah untuk saya tulis juga itu satu-satunya topik yang nggak akan ada habisnya untuk dibahas.

Dan bagi saya,

Tidak akan seorang pun yang bisa menghargai karya atau apa yang saya tulis, jika saya tak lebih dulu menghargainya

Continue reading “Love Actually”

W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes

W two worlds  (source: google image)
W two worlds
(source: google image)
Screen shoot dari youtube :)
Screen shoot dari youtube 🙂

Sebenarnya saya bukan pecinta fanatik drama korea, apalagi dulu waktu masih zaman S1. Ketika teman-teman sedang heboh-hebohnya dan gandrung dengan boysband atau girlsband korea, saya mah nggak pernah tertarik sekalipun sering banget dicekokin korea. Bukan cuma boysband dan girlsband sih, drama korea juga. Jadi dulu itu, cuma sekedar tahu ini band apa itu band apa, siapa personilnya, tapi nggak pernah yang benar-benar ngikutin. Untuk sebuah alasan tertentu, saya nggak pernah bisa benar-benar suka dengan artis-artis korea, terutama boysband.

Anehnya, sekarang-sekarang malah bisa dibilang lumayan mengikuti trend drama korea terbaru. Nggak semua sih. Cuma beberapa, tapi ini juga sudah kemajuan karena dulu sama sekali enggak. Sekalinya dulu pernah ikutan nonton drama korea yang diadaptasi dari komik jepang, pada akhirnya berakhir dengan kecewa karena saya jauh lebih puas dengan versi adapatasi yang Jepang. Jadi, ujung-ujungnya nonton drama korea (drakor) nggak pernah punya ekspektasi lebih. Just for fun aja sih ujung-ujungnya karena memang seringnya kecewa. Tapi, itu dulu sih. Kalau dulu cuma taunya my girlfriend is a gumiho, sekarang lumayanlah tau lebih banyak. Nggak ngerti ya, memang sekarang-sekarang drakor lagi bagus-bagusnya atau memang saya yang mulai terbuka buat nonton. Belakangan malah suka nonton drakor apalagi kalau bintang tamunya pernah muncul di running man. Sering sih nonton cuma gara-gara alasan ini. Contohnya My love from another star, Moon that embraces the sun, DOTS, beautiful gongshim, Let’s fight ghost, dan lain-lain. Iya, saya cuma nonton drakor yang hits aja soalnya biar nggak kecewa-kecewa banget. Karena kan, kalau drakornya hits, artinya ya bisa dibilang ada faktor istimewa yang dipunyai drakornya. Ada drakor yang akhirnya saya suka, ada juga yang sebenarnya so-so.

Continue reading “W Two Worlds (Korean Drama) through my eyes”

Keine Sorge. Keep EYES OPEN, dear. (Fiksi)

Bak orang yang sedang dirasuki jin penulis, Schöna (baca: Syona) membuka laptop-nya dan langsung menulis dengan perasaan yang campur aduk, tapi dari raut wajahnya sangat jelas terbaca bahwa rasa kesal, menyesal, dan kecewa terpampang jelas disana. Aku sudah mengenalnya nyaris hampir seumur aku hidup sampai hari ini. Kami sudah bermain bersama, bahkan yang kudengar dari Ibuku, sejak umur setahun. Lihat? Aku sudah menjadi temannya bahkan jauh sebelum umur aku bisa mengingat bahwa kami ini berteman. Baca-membaca raut wajah dan menginterpretasikan suasana hati Schöna seperti saat ini sudah bukan perkara sulit buatku. Mudahnya sudah sama seperti orang bernafas.

“Kenapa lagi Schön? Lo datang-datang ke kamar orang, main langsung buka laptop.” Tanyaku ketika si gadis berumur 23 tahun itu mulai sibuk mengetik di laptop-nya.

“Ah lo pasti tau.” Jawabnya singkat tanpa mengarahkan mata padaku.

“Oh. Chaka.” Singkat saja responku. Tapi aku dan Schöna saling mengerti. Kami sudah tidak butuh kalimat panjang lebar lagi untuk bisa saling bertukar cerita.

Schöna berhenti sejenak dan menatap pandang ke arah mataku. Lurus. Bahasa tubuhnya yang ini menandakan bahwa satu inti kalimat yang akan meluncur dari mulutnya dan itu sudah sangat menjawab seluruh pertanyaanku. Continue reading “Keine Sorge. Keep EYES OPEN, dear. (Fiksi)”