Monolog : Krisis Identitas

Inilah waktu dimana saya benci untuk berada dalam kondisi sendirian. Karena waktu-waktu seperti ini menjadi pemicu hebat dimana si otak bisa secara semena-mena memikirkan hal yang mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk saya secara pribadi memikirkannya. Contoh nyatanya ya seperti saat ini.

Sebenarnya. Mau jadi apa sih saya ini ke depan?

Jangankan Ayah, saya sendiri juga bingung ke depan saya akan menjadi apa.

Sudah. Saya sudah punya rencana. Tapi… beginilah.

Merasa diri sedang berjalan di sepanjang lorong yang gelap, mencoba mencari jalan keluar menuju cahaya. Di suatu saat, saya merasa sedang berjalan membawa senter dan obor. Di sisi lain, saya hanya merasa di temani sebatang lilin kecil yang bahkan jarak pandang yang jelas tidak sampai satu meter ke depan.

Dengan sifat dasar terlahir sebagai pemalas dengan banyak mimpi ini, memang terkadang jangankan berusaha, berpikir saja sulit sekali rasanya. Ya… seperti sekarang ini.

Orang-orang pernah bilang saya ini idealis, rajin, bahkan pekerja keras.

Ingin sekali sih setuju dengan semua yang orang-orang katakan itu. Bahkan adik saya sendiri juga berkata hal yang sama.

“Ah kamu kak. Lagaknya kayak malas. Padahal sebenernya rajin. Biar disangka orang pintar tanpa butuh usaha ya?” Begitu katanya disuatu kesempatan. Sudah terlalu biasa mendengar ucapannya yang menurut saya sih penuh dengan nada sinis. Tapi mengingat semua orang bilang dia menyenangkan dan dia luar biasa. Yah, saya sudah tidak menanggapi lagi ucapannya.

Mungkin memang begitu saya di mata dia. Mungkin pula saya memang begitu di mata orang-orang lain. Tapi ya sudahlah. Menurut saya, bukan hal yang buruk juga kalau orang mengenal kita dengan kepribadian yang baik. Banyak orang mungkin tidak ingin di remehkan. Jadi, ya harusnya saya senang dan merasa beruntung karena tidak butuh usaha banyak dan menerima tanggapan negatif dari orang-orang.

Ah, ngomongnya jadi ngalor-ngidul begini.

Tapi. Kalau boleh jujur. Saya sedikit terpengaruh juga oleh ucapan orang-orang itu. Kalau seandainya saya ini memang rajin, atau ya bolehlah pintar (asalkan jangan dinilai dari IPK. Karena kalau dinilai dari situ, maka penilaian orang-orang terhadap saya, salah besar), pekerja keras, dan idealis, maka harusnya sejauh yang saya tahu, nasib orang-orang dengan kepribadian semacam itu insyaAllah sukses kan ya?

Amin. Amin. Amin.

Sebenarnya kamu krisis identitas, ingin memuji diri sendiri, atau galau sih Rin?

Yah. Tidak dewasa kalau menumpahkan semua cerita di media seperti ini. Tapi peduli apa. Toh saya juga yang membaca dan saya juga yang akan tersindir nantinya di hari depan. Belakangan memang ada hal-hal yang membuat jatuh dan tempat bersandar saya yang lama juga sudah hilang secara tiba-tiba. Terlalu kekanakan pula rasanya bercerita pada dua orang yang sangat saya hormati. Jadi, sejauh ini yang terpikirkan ya hanya mencoba berbicara dan berdialog dengan diri sendiri.

Tapi. Jadinya berujung pada kalimat-kalimat tertulis seperti ini. Karena ketika gagal melakukan dialog dengan diri saya sendiri, maka satu-satunya jalan keluar yang saya tahu, ya keluarkan semua rasa itu. Biar sesaknya hilang.

Jadi kamu krisis identitas, galau, atau apa Rin? Yuk berantem aja di lapangan.

Advertisements

2 thoughts on “Monolog : Krisis Identitas

  1. Emang gitu rin..ada saat” dimana kita merasa minder, menyalahkan diri sendiri, gak semangat..aq juga sering kayak gitu..sabar aja cari jalan biar tambah semangat dan mengoreksi diri 🙂
    *sok bijak dan gak nyambung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s