Keine Sorge. Keep EYES OPEN, dear. (Fiksi)

Bak orang yang sedang dirasuki jin penulis, Schöna (baca: Syona) membuka laptop-nya dan langsung menulis dengan perasaan yang campur aduk, tapi dari raut wajahnya sangat jelas terbaca bahwa rasa kesal, menyesal, dan kecewa terpampang jelas disana. Aku sudah mengenalnya nyaris hampir seumur aku hidup sampai hari ini. Kami sudah bermain bersama, bahkan yang kudengar dari Ibuku, sejak umur setahun. Lihat? Aku sudah menjadi temannya bahkan jauh sebelum umur aku bisa mengingat bahwa kami ini berteman. Baca-membaca raut wajah dan menginterpretasikan suasana hati Schöna seperti saat ini sudah bukan perkara sulit buatku. Mudahnya sudah sama seperti orang bernafas.

“Kenapa lagi Schön? Lo datang-datang ke kamar orang, main langsung buka laptop.” Tanyaku ketika si gadis berumur 23 tahun itu mulai sibuk mengetik di laptop-nya.

“Ah lo pasti tau.” Jawabnya singkat tanpa mengarahkan mata padaku.

“Oh. Chaka.” Singkat saja responku. Tapi aku dan Schöna saling mengerti. Kami sudah tidak butuh kalimat panjang lebar lagi untuk bisa saling bertukar cerita.

Schöna berhenti sejenak dan menatap pandang ke arah mataku. Lurus. Bahasa tubuhnya yang ini menandakan bahwa satu inti kalimat yang akan meluncur dari mulutnya dan itu sudah sangat menjawab seluruh pertanyaanku.

“Gue udah capek banget kayaknya. Diacuhin nggak ada kabar. Sementara gue tau itu orang sedang bersenang-senang dengan orang entah siapa dan disini gue seenak dengkul nggak dikabarin. Gue kesel.” Muka Schöna memerah seperti tomat. Oh, dia sudah sampai pada batasnya.

Beberapa bulan belakangan memang ada sesuatu yang tidak beres dengan hubungan  Schöna dan Chaka dari yang kulihat, yang merupakan (entah masih) pacarnya (atau tidak). Chaka itu pacar pertama Schöna, jadi wajar saja si gadis enerjik ini sangat super ekspresif. Aku tahu semua cerita mereka. Sangat tahu. Chaka itu posesif. Setidaknya begitu yang aku tangkap dan aku lihat dari gerak-geriknya. Bagi seorang aquarius seperti Schöna, bisa bertahan cukup lama dengan pikiran “Oh, nanti dia akan berubah seiring bertambah dewasa” adalah merupakan hal yang sangat luar biasa mengingat ia sangat menyukai kebebasan dan bisa menahan diri. Yah, terkadang meledak juga.

“Lo mesti tau Al. Sejak hari dia mulai nyuekin gue karena semua komplain dia ke gue yang nggak boleh temenan sama cowok, lalu gue dibilang berubah dan segala hal yang dia sebut itu, lo tau dia kemana?” tanyanya singkat. Aku menggeleng cepat. Aku sangat tahu ia sedang sangat butuh teman cerita yang punya dua telinga secara penuh yang berfungsi maksimal dan bibir yang sebisa mungkin dijaga. Responku ini adalah jawaban dari hal itu.

“Dia ke Pulau sama temen-temennya. Dan lo tau apa. Disana ada seorang cewek, mantan gebetan pertamanya yang dia puja-puja. Lo mesti tau. Cewek itu sendirian. Dan gue baru tau dari foto-foto yang ada. Si Chaka selalu ada disebelah cewek itu. Parahnya lagi ada foto-foto dimana itu cewek santai aja nyenderin tangan ke bahu Chaka. Lo tau gue juga posesif tapi tingkah gue nggak macam si Chaka. Lo bisa bayangin. Disaat gue sibuk nanyain kabar dia, even ke Mamanya yang bahkan gue juga menjadi terpojok, ternyata itu orang lagi asik-asikan liburan ke Pulau. Sampai hari ini gue masih di cuek-in. Cinta eek kucing.”

Akhirnya keluar juga kalimat itu di akhir penjelasannya. Satu kalimat yang cuma keluar sekali seumur hidupnya. Oh, ini adalah kali kedua. “Eek kucing” adalah ungkapan yang dilontarkan Schöna ketika tingkat kekesalannya sudah mencapai puncak. Keluar juga ungkapan itu. Sulit memang. Ini merupakan pengalaman pertama Schöna memiliki pacar dan mampu bertahan lama dengan segala kendala yang ada. Sejauh yang aku tahu, 6 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dua orang saling mengenal.

“Menurut lo gue sekarang mesti ngapain?” tanyanya.

“Lo? Gue harus jujur?” Jawabku singkat dan datar.

“Iye.”

“Kejar mimpi lo yang sempat terganggu karena masalah ini. Tapi setelah ini. Sekarang, lo puas-puasin keluarin semua sesek yang lo rasain. Pakai waktu ini untuk lo buang rasa kesel lo. Gue nggak akan memihak siapa-siapa, karena kalau lo minta pendapat ke gue sudah pasti gue bakal ngebelain lo. Sejauh yang gue tau, Gue kenal siapa elo, dan gue nggak terlalu kenal siapa itu Chaka. Banyak urusan yang lebih penting yang sedang menunggu lo buat di kelarin.” Itulah sejujurnya hal yang ingin aku katakan padanya. Schöna adalah sahabat terbaikku. Dan buatku, sangat disayangkan melihat pikiran dan fokusnya terganggu untuk masa depan yang bisa ia raih dan menjadi lebih baik hanya karena terganggu masalah saat ini.

“Oke. Gue masih punya elo. Sejauh itu gue udah merasa lebih baik. Yang gue sesek sekarang, gue pengen banget bisa berpikir gue dan dia putus. Tapi ini? Ngegantung layaknya feses yang ada disungai.” Ceritanya lagi.

“Lo udah berusaha sejauh yang elo bisa buat memperbaiki keadaan. Dan kalau itu orang nggak mengerti dengan usaha lo. Salah dia. Lo terlalu istimewa buat dianggurin Schön. Biarkan dia merugi. Dia menyebut lo sebagai “wrong person“. Seperti yang sudah gue bilang. Walau lo nggak cocok dengan seseorang, mereka nggak pernah berhak buat bilang seseorang lo itu orang yang salah. Nggak cocok itu nggak sama dengan salah. Gue kenal lo siapa. Orang itu nggak kenal lo kalau mereka nggak tau karena ucapan kecil itu bisa sangat mengganggu lo. Dan Chaka. Seperti yang gue simpulin. Dia nggak tau siapa elo. Dia cuma tau 1% dari 100 % yang elo punya. Kayaknya ngabisin waktu kalau lo masih bertahan sementara dia begitu, dan dari 6 tahun yang sudah berjalan, dia cuma tau elo 1%. KEEP YOUR EYES OPEN, Liebe Schöna.” Ucapku dengan penekanan kalimat dibagian akhir. Untuk menyatakan bahwa kalimat terakhir itu sangat serius aku ucapkan, aku menambahkan gestur tubuh dengan telunjuk tangan kiri berada di pelipis dekat mataku. Sejauh yang aku lihat, tidak barang sedetikpun mata Schöna berkedip ketika aku berbicara.

Tidak barang sedetikpun kedua mata yang ditutupi bingkai kacamata hitam itu berkedip. Tulisannya di laptop sudah cukup lama ia anggurkan dan aku tidak tahu juga tidak butuh untuk tahu apa yang ia tulis. Apa yang ia tulis dan mungkin belum sempat ia selesaikan itu, sudah lebih dulu aku ketahui saat ini. Matanya masih lurus menatap tajam ke arahku, tepat ke arah dua bola mataku. Detik berikutnya yang sudah aku bisa tebak yaitu : bahunya bergetar dan ya… jatuhlah itu beberapa bulir air bening di kedua sudut matanya. Perasaanku entah kenapa menjadi lebih baik melihatnya bersikap begitu. Itulah airmata kekesalan yang selama ini ia tahan. Aku tidak akan melakukan apapun bahkan walaupun cuma merangkul bahunya. Schöna tidak sama seperti teman-teman yang aku kenal pada umumnya. Dia tidak butuh kata-kata dukungan atau bahkan rangkulan dia saat sedih seperti ini atau sikap melankolis lainnya yang bisa semakin memicu kondisi menjadi lebih “lebay“. Cukup diam saja di tempat. Cukup ada disebelahnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

“Gue kesel. Gue kecewa.” Ucapnya sambil mengelap airmata yang hanya jatuh beberapa tetes itu yang bahkan sudah hampir mengering. Keringlah cepat hey airmata dan bawa jauh semua kenangan yang mungkin masih tersisa yang itu bisa kembali membuatnya jatuh. Pergilah jauh!

“Schön, Zeit heilt alle Wunde. Keine Sorge.* Just keep your eyes open, please.” Simpulku.

(Waktu menyembuhkan semua luka. Jangan khawatir.)

Wait, mana laptop lo. Ini lagu buat lo dari gue. Hmmm.. nih. Lagu soundtrack film kesukaan nomor wahid, the hunger games. Lo ingat si Liam-nya aja. Hahaha.” Ucapku sambil mencari lagu yang sudah ada di player list i-Tunes Schöna.

“Yep. Gue tau. Jodoh juga nggak bakal kemana. Kalau kemana-mana mah ya emang nggak jodoh ya Al. vielen Dank für alles. Du bist noch die Besten.*” Ucapnya sambil tersenyum.

(Terima kasih banyak untuk semuanya. Kamu masih (teman) yang terbaik).

Aber gerne. Das ist die Grund, warum ich hier bin. Alles wird gut.” Tutupku sebelum menyalakan lagu Eyes Open dari Taylor Swift itu untuk Schöna. Jalan kita masih panjang, Schöna. Dan masih akan banyak cerita yang kita akan lalui. Walau itu sepahit  buah menkudu, seasin garam, segurih makanan dengan MSG, seasam strawberry, bahkan juga mungkin semanis kecap bango.

(Dengan senang hati. Itulah mengapa aku ada disini. Semua akan baik-baik saja.)

—-

Eyes Open – Taylor Swift

Everybody’s waiting
Everybody’s watching
Even when you’re sleeping
Keep your ey-eyes open

The tricky thing
Is yesterday we were just children
Playing soldiers
Just pretending
Dreaming dreams with happy endings
In backyards, winning battles with our wooden swords
But now we’ve stepped into a cruel world
Where everybody stands and keeps score

Keep your eyes open

Everybody’s waiting for you to breakdown
Everybody’s watching to see the fallout
Even when you’re sleeping, sleeping
Keep your ey-eyes open

So here you are, two steps ahead and staying on guard
Every lesson forms a new scar
They never thought you’d make it this far
But turn around (turn around), oh they’ve surrounded you
It’s a showdown (showdown) and nobody comes to save you now
But you’ve got something they don’t
Yeah you’ve got something they don’t
You’ve just gotta keep your eyes open

Everybody’s waiting for you to breakdown
Everybody’s watching to see the fallout
Even when you’re sleeping, sleeping
Keep your ey-eyes open

Keep your feet ready
Heartbeat steady
Keep your eyes open
Keep your aim locked
The night goes dark
Keep your eyes open

Everybody’s waiting for you to breakdown
Everybody’s watching to see the fallout
Even when you’re sleeping, sleeping

Keep your ey-eyes open

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s