Secret Admirer (Sebuah cerita pendek)

Written by : Rini Amelia

Secret Admirer

Aku masih setia duduk disini. Setiap hari selasa pukul 16.00 di meja sudut nomor 12. Kedatanganku hari ini mungkin adalah kedatangan kesekian ratus kalinya sejak empat tahun yang lalu. Tidak pernah terpikir untuk melewatkan sekali saja kesempatan duduk di Café ini kecuali jika keadaan memang tidak memungkinkan. Bagi kebanyakan orang, kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas ini mungkin adalah hal yang cukup bahkan sangat membosankan untuk dijalani. Memesan menu yang bervariasi mungkin bisa menjadi salah satu solusi pemecah kebosanan saat melakoni kebiasaan ini. Tidak bagiku. Tidak juga bagi hatiku. Tak ada kata bosan barang sedetikpun. Tak pernah terpikir barang satu kalipun untuk bisa melewatkan kesempatan melihat dia. Pria muda berusia 29 tahun dan berbadan tegap pemilik Café ini. Tidak satu detikpun aku lewatkan kesempatan menatap setiap langkah Pria itu menuju keluar Café favoritku ini. Kuberitahu, namanya Rafka. Aku… adalah pemuja rahasianya. Bukan sejak empat tahun sejak batu pertama ditancapkan sebelum berdiri utuhnya Café ini. Lebih lama dari itu. Nanti tanpa diminta aku pasti dengan sukarela mengotomatisasi pikiranku untuk bercerita. Tentang dia. Tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah bahwa aku telah mengaku aku mencintainya sekalipun hanya dari sudut Café ini setiap hari Selasa.

Dari balik kaca jendela Café di meja nomor 12 ini, dengan jelas aku dapat melihat langkah tegasnya menuju parkiran khusus miliknya yang diberi tanda “Parkir Khusus Pemilik Café”. Papan itu berdiri gagah tepat di depan mobil CRV putih miliknya. Sama seperti pemiliknya, siapapun tahu bahwa mobil itu terawat dengan baik, mengkilap tanpa goresan sedikitpun. Tatapan para wanita yang sebagian besar singgah sepulang kantor tertuju pada satu fokus yang menyiratkan tatapan kagum dan terpesona. Sama seperti tatapanku. Tatapan candu pada pria pemilik Café itu. Rafka. Kemeja biru yang dipakai Rafka sudah lebih dari cukup untuk menunjang pesonanya. Lengan kemeja yang panjang digulung sampai siku. Kurang maskulin apa? Para wanita yang akan berjalan berpapasan dengan Rafka terhenti sebentar dan berbisik dengan teman disampingnya. Rafka tak peduli. Memang tak pernah peduli. Aku sudah tahu itu. Sejak dulu aku mengikrarkan diri menjadi pengagum rahasianya yang setia pun, dia tak pernah peduli dengan para gadis yang menatap bahkan meneriakinya. Meneriaki layaknya bintang yang sedang bersinar. Di masa lalu, semua orang bisa mengira, pesonanya sama memukaunya. Dia bintang lapangan. Pemain basket pujaan hati wanita. Aku, sebagai penggemarnya nomor satu, tak sekalipun melewatkan pertandingannya. Masih sama seperti saat ini, setia memojok di sudut jarak pandang setiap orang. Aku tak pernah peduli tak ada yang peduli. Sama seperti Rafka yang tidak peduli pada tatapan para gadis di sekitarnya. Kalau memang harus jujur, aku senang dia tak peduli, tak pernah peduli.

Aku menopangkan dagu ketika melihat mobil CRV putih miliknya memudar menjauh dari pandangan. Bukan kali ini saja, aku selalu mampu menunggingkan senyum saat kulihat para wanita yang berbisik tadi kecewa Rafka tak menyadari kehadiran mereka. Aku tersenyum. Merasa menang dan tenang bahwa idola nomor satu itu masih sama seperti dulu. Apa yang dia pedulikan? Apa yang mampu mengarahkan pandangannya?

“Ibu, ini minumannya. Selamat menikmati.” Suara ramah seorang pramusaji mampu membuyarkan lamunanku dan membuatku cukup terperanjak karena kaget. Strawberry milkshake pesananku sudah datang. Tepat berada di sudut 180° dari pusat pandangku. Imaji kesegaran segera menghampiriku. Terbayang nikmatnya minuman yang bahkan belum sempat aku sentuh ini. Tak perlu kusentuhpun, aku sudah hapal diluar kepala. Ini menu minuman favoritku.

“Terima kasih,” ujarku singkat sambil melayangkan sekilas senyum pada gadis pramusaji itu.

“Ada lagi yang bisa saya bantu bu?” tawarnya ramah.

“Oh tidak. Nanti kalau memang ada yang ingin saya pesan lagi, akan saya panggil. Terima kasih.” Ulangku lagi.

“Selamat menikmati bu,” ucapnya mengakhiri pelayanan singkat ini. Pramusaji itu berlalu.

Aku menyeruput strawberry milkshake-ku. Seperti dugaanku, segarnya mengalir melewati kerongkongan. Ada cerita dibalik minuman ini. Mau tak mau untuk kesekian kalinya, pikiranku kembali melayang ke masa delapan tahun yang lalu. Saat aku masih resmi menyandang status mahasiswa tingkat akhir jurusan akuntansi. Saat itu, aku duduk sendirian di perpustakaan pusat sibuk menjamah halaman demi halaman buku sumber yang kujadikan acuan dalam skripsiku. Perpustakaan sepi. Langkah kaki terdengar menaiki tangga. Langkah kaki yang berat. Bangku berdecit saat digeser dan sesosok tubuh menghempaskan diri pada bangku kayu itu. Tepat berada pada jarak dua meja di depanku. Itu dia. Si idola nomor satu. Tak perlu kupandangi dengan jelas, cukup dari sudut mataku aku bisa mengenali dengan jelas sosok familiar itu. Bahkan jika tidak berlebihan, dari bayangannya saja, aku sudah tau itu dia. Jangan ditanya apa rasanya berada dalam jarak dekat dengan sosok itu. Jikalau bisa, aku sudah mencopot sejenak jantungku keluar dari tubuhku karena debaran yang sangat keras dengan ritme tidak teratur karena itu cukup membuatku lelah walau hanya satu menit saja.

Kucoba menenangkan diri. ‘Naira, Naira. Tetaplah waras. Bahkan dia tidak akan peduli dengan kehadiranmu.’ Begitu kata otakku saat itu. Aku masih bersikap sangat tenang dari luar padahal disaat yang bersamaan organ jantungku yang bekerja diluar kesadaran itu sudah bekerja jauh melenceng dari fungsi fisiologisnya. Aku seperti mendadak terserang takikardi karena detak jantung yang mendadak berdebar cepat ini saat kusadari kehadirannya disitu dengan santainya. Aku berdebar namun sangat menikmati kesempatan langka yang belum tentu akan terjadi lagi itu. Masih dari sudut mata yang sebisa mungkin kuusahakan tidak disadari itu, aku melihat dia diam-diam mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya yang sedari tadi berusaha ia jaga seperti menjaga barang berharga. Saking penasaran dengan tindakan apa yang akan ia lakukan, aku melihatnya tersenyum jahil untuk pertama kali sejak aku berikrar menjadi pengagum rahasianya yang nomor satu. Segelas plastik strawberry milkshake.

Wajahnya begitu gembira menatap minuman itu utuh. Aku tidak mampu lagi menahan senyumku dan mengacuhkan setumpuk buku yang ada dihadapanku ketika kulihat dengan wajah bahagia dia menyeruput minuman itu. Dia tidak berhenti menyeruput minuman itu dengan sedotan seakan telah menahan dahaga selama seminggu. Sebagai pemuja rahasia nomor satu, aku merasa beruntung. Aku tahu satu rahasia tentang dia. Dan mungkin itu adalah rahasia besar. Juga, satu lagi alasan lagi untuk semakin menyukainya.

“Aduh aduh aduh. Ampun pak. Sakit pak…” Sebuah teriakan kecil terdengar. Kali ini aku tidak malu-malu untuk mengarahkan pandang tepat lurus ke depan saat mendegar suara gaduh itu. Aku spontan tertawa ketika kulihat Pak Said, penjaga perpustakaan, sedang menjewer telinga kanan Rafka.

“Saya kan sudah bilang, jangan diam-diam bawa minuman kesini. Kamu bandel banget sih dibilangin berkali-kali.” Omelan Pak Said terdengar ke seluruh ruangan yang sepi itu. Satu hal lagi yang kini aku tahu, walau aku jarang ke perpustakaan. Aku jadi tahu bahwa Rafka sering membawa strawberry milkshake secara diam-diam dan meminumnya di perpustakaan sampai ketahuan.

Aku tersentak dari nostalgiaku ketika tanganku yang sedari tadi menyentuh dasar gelas basah akibat tetesan air yang mengalir dari dinding gelas yang dingin mengenai punggung tanganku. Ah, duniaku berotasi hanya pada satu poros yang selalu sama. Rafka. Kagumku pada diriku ketika menyadari bahwa delapan tahun adalah waktu minimal aku menghabiskan waktu untuk menjadi pemuja rahasianya yang paling setia. Aku tidak ingat berapa lama tepatnya tapi sudah pasti depalan tahun ini adalah waktu yang kuhabiskan untuk satu nama saja. Puji aku untuk kesetiaanku sekalipun aku tahu dia tak tahu. Aku kan memang hanya pemuja rahasianya.

Semua rasa bisa datang tapi juga bisa pergi pada pengagum rahasia yang lain. Tapi tidak buatku. Delapan tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikannya. Aku melirik jam tanganku. Nyaris satu jam penuh aku duduk disini. Sibuk dengan kegiatan yang sama dan kebiasaan yang sama setiap minggunya di hari Selasa. Hari dimana dengan jelas aku bisa mengingat dengan rinci setiap detail memori di perpustakaan itu. Hari Selasa ini adalah tepat delapan tahun sejak hari itu. Aku menamainya,The Strawberry milkshake day. Inilah caraku melakukan selebrasinya.

Mobil CRV putih yang sejak sejam yang lalu menghilang sudah rapi kembali terparkir di tempat parkiran khusus itu. Dia yang berkemeja biru turun dari mobil. Gagah seperti hari-hari sebelumnya, berjalan ke sisi mobil lainnya dan membukakan pintu mobil. Seorang gadis turun dari pintu mobil itu dengan hati-hati. Aku mengamati dengan seksama tanpa kedipan mata. Rafka tersenyum pada gadis itu dan menggandeng tangan gadis berseragam biru itu. Warna yang sama dengan kemeja Rafka. Rafka tampak sangat bahagia sekali bersama dengan gadis itu. Mereka berjalan masuk berdampingan dalam genggaman tangan yang erat. Aku dapat melihat dengan jelas. Posisiku saat ini adalah posisi yang sangat strategis karena berjarak beberapa meter garis lurus dari pintu masuk Café. Tangan kanan Rafka menggenggam erat tangan gadis itu sementara tangannya yang lain disimpan dibalik punggungnya. Gadis itu melepas genggaman Rafka dan mulai melangkah cepat lurus menuju ke arahku. Aku melayangkan senyuman yang paling manis yang aku bisa. Gadis itu mempercepat langkah.

“Bundaaaaaa…” Gadis itu menghambur kepelukanku. Gadis cilik berumur lima tahun yang baru saja pulang dari kursus pianonya ini langsung melayangkan kecupan di pipiku. Eriska namanya. Dengan segala kelincahan yang ia punya, Eriska langsung duduk di pangkuanku.

“Aduh sayang Bunda udah pulang. Capek nak?” Aku mengusap kepalanya dan menyapu poni yang menutupi keningnya. Eriska menggeleng.

“Udah enggak habis ketemu Bunda. Hehehehe…” ucapnya polos. Aku mencium gemas pipinya.

“Sayang, this is for you…” Sebuah tangan terasa hangat merangkul bahuku dan disaat yang bersamaan sebuket bunga lili putih terhampar dihadapanku. Bunga favoritku. Rafka selalu ingat. Walau memberikan sebuket bunga lili di setiap hari Selasa sore adalah suatu kebiasaan baginya sama seperti kebiasaanku duduk dibangku yang sama, tapi ini tak menjadi alasan untuk sebuah kejenuhan. Aku meraih bunga itu dan tersenyum ke arahnya. Rafka balas tersenyum hangat. Dan satu lagi rahasia. Senyum ini adalah senyum yang hanya kutemukan saat ia menatapku dan putri cilik kami, Eriska.

“Kamu selalu tau kesukaanku. Jangan-jangan kamu secret admirer aku ya sayang…” ucapnya dan langsung menyambar strawberry milkshake pesananku. Aku mencubit lengannya dan sebuah kecupan melayang dengan lembut di keningku.

Bandung, 31 Oktober 2012

Pukul 03.15 WIB

Advertisements

6 thoughts on “Secret Admirer (Sebuah cerita pendek)

    1. seriusan? Wah mokasih lo wil 😀

      waktu nulis iko berkali-kali rini baco ulang dan edit dan nulis dengan sepenuh jiwa *tsailah*

      tapi ternyata alun razaki
      jadi se rini pos di blog pado tabuang 😀

      tengkyu tengkyu 🙂

      1. Yang bikin sesuatu kayaknyo efek ‘surprise’-nyo.

        Biasalahhh.. Kalau nulis kan emang selalu parno-an, hhaha takut kurang perfect. Jiwa seorang penulis emang gitu. Hhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s