New Life, New Adventure

Congratulations for me and my self. Akhirnya selesai sudah perjuangan saya selama 5 tahun di kampus tercinta πŸ˜€ Perkuliahan yag bahkan membuat saya “malas” menulis akhirnya selesai juga. Setahun saja memang tapi lumayan membuat emosi jiwa dan raga bergolak.

After all of this, i step up for a new life. Welcome new tittle, PENGANGGURAN. Hahahahaha. Setelah menyelesaikan 5 tahun perjalanan yang panjang ini, sebuah rencana terlintas di pikiran saya. Saya ingin merayakan kebebasan akademis yang sesaat ini. Kepikirannya sih sebelum pengumuman keluar tapi berani nulisnya sih baru sekarang. Hahahahaha.

Saya ingin ke Bromo.

Sesederhana itu saja. Tidak ada tujuan lain. Sebenarnya saya ingin melihat bunga edelweiss secara langsung. Bukan sunrise di Pananjakan atau apapun itu. Ya belakangan saya tahu kalau ingin lihat edelweiss ya harus ke Ranu Kumbolo di Semeru.

Bromo itu di Probolinggo. Saya di Bandung. Hal pertama yang saya lakukan secara tiba-tiba adalah minta izin ke ibu saya.

Saya : Bu, aku setelah pengumuman mau pergi jalan-jalan tapi sayangnya jauh.

Ibu : Kemana?

Saya : Jauh dari bandung.

Ibu : Iya dimana?

Saya : Gunung Bromo bu.

Ibu : Ah, deket. Pergilah.

Sungguhlah emak yang luar biasa karena belakangan setelah mendapat izin dengan syarat ada teman di jalan, saya tahu nggak semua orang tua ngasih izin anaknya berangkat ke tempat yang jauh yang belum pernah saya kunjungi. Maksud saya, mungkin mudah buat yang lain, tapi rasanya luar biasa buat saya mengingat selama 5 tahun belakangan saya sengaja mengurung diri untuk tidak keluar kota yang jauh dan jalan-jalan seperti petualang karena merasa belum saatnya. Jangan samakan saya dengan pecinta alam dimana hal ini cuma hal cetek buat mereka. Hahahaha.

Kesulitan yang paling saya rasakan sebelum berangkat ke ke Malang dan Bromo adalah nyari orang disana yang bisa diajak main dan nyari teman berangkat yang bisa di ajak senang-senang. Akhirnya saya ingat seorang teman SMA yang masih kuliah di Brawijaya yang kebetulan anak Mapala. Dia bilang. “Kamu kesini berdua aja, kalau berdua gampang ke Bromo. Naik motor aja. Gampanglah. Tinggal sampai sini aja.” Satu masalah teratasi. Tinggal saya yang harus mencari seorang teman. Lumayan susah juga ternyata karena teman yang suka berpetualang yang notabenenya juga anak Mapala di kampus sudah sibuk mencari petualangan mereka sendiri. Yang bukan mapala, yang mau banyak tapi yang bisa susah. Nggak dapat izinlah, inilah, itulah. Ada aja deh. Akhirnya, siapapun deh siapapun yang bisa ikut, saya langsung cabut. Mengingat saat itu belum pengumuman, lumayan bikin galau juga kalau seandainya nggak lulus, berabe juga ini kalau pergi. Akhirnya saya nelpon emak saya lagi.

Saya : Bu, nanti kalau aku nggak lulus gimana bu?

Ibu : Ya tinggal ngulang.

Saya : -_-” Bukan bu, jalan-jalannya ke Bromo masih boleh nggak?

Ibu : Ya pergilah. Kamu nggak Bromo kan kalau nggak lulus juga tetep nggak lulus.

Saya : *Iya sih. Luar biasa emang orangtua saya* Kenapa sih Bu, aku gampang banget dapet izinnya? Ini aja nyari temen susah banget. Emak Bapak temenku pada banyak yang nggak kasih izin. Kenapa gampang sih aku dapet izinnya?

Ibu : Loh. Kamu kan sudah dewasa. Lagipula kesempatan kayak gini nggak akan kamu dapetin lagi kalau udah sibuk kerja.

How a sweet mother. Saya cuma senyum saja mendengar jawaban ibu saya. Saya sudah dewasa dan Ibu sudah memberi saya kepercayaan penuh. Tinggal nyari teman yang bisa diajak. Siapapun okelah. Akhirnya saya dapat seorang teman perjalanan yang belakangan saya tahu bahwa dia tidak suka naik kereta ekonomi. Jadinya perjalanan selama 17 jam di kereta terasa cukup berat juga. Hahaha. Ya sebodolah ya, yang penting saya harus have fun di Bromo.

Sampai Bromo akhirnya saya bertemu teman saya. Diskusi dan memutuskan berangkatnya malam jam 2. Sebelum ke Bromo sampai malam akhirnya jalan-jalan nggak jelas aja. Keliling-keliling. Ke Batu dan alun-alun. Ngobrol-ngobrol. Saya lumayan dapat cerita banyak juga dari teman disana. Tentang Malang dan masyarakatnya. Tempat wisatanya sekaligus persiapan ke Bromo. Saat ini musim kemarau, katanya suhu di sana sedang puncak dingin. Banyak di Ranu Kumbolo yang tadinya ingin saya kunjungi, suhu mencapai -5 derajat Celsius sampai terbentuk lapisan es tipis. Dari info yang saya dapat juga, saat ini sedang ada perbaikan jalan di Pananjakan jadi akhirnya pupus sudah untuk bisa lihat sunrise yang katanya luar biasa, Tapi ya sudah sih. Enjoy aja. Untungnya seorang teman yang dibawa oleh teman saya itu orangnya cukup ramah, jadi teman yang saya dari Bandung bisa cukup nyaman berinteraksi dengan mereka.

Bicara soal perlengkapan yang saya bawa, tim Malang cukup underestimate terhadap perlengkapan yang saya bawa yang saya pikir cukup untuk diri saya sendiri. Tapi persiapan yang baik itu juga sangat penting memang. Persiapan yang baik itu harus sangat disiapkan biar ntar selama perjalanan kita nggak ngerepotin orang lain dan diri sendiri. Pelajaran penting juga memang ini. Tapi Alhamdulillah persiapan yang saya bawa, itu cukup dan sangat cukup untuk diri saya sendiri bahkan saya bisa minjemin sarung tangan buat temen saya yang bawa motor.

Menunggu jam 2 malam sambil ngobrol ngalor-ngidul di kantin Universitas Brawijaya, akhirnya kita berempat berangkat juga. Udara malam cukup dinginlah. Maklum, berkendara dengan motor membuat paparan angin malam cukup kuat dibanding kendaran roda empat. Tapi saya merasa sih, memang lebih seru naik motor dari mobil sih. Teman saya juga cukup khawatir dengan perlengkapan yang saya bawa ya karena kita semua berangkat pake motor, bukan jeep. Karena kalau pakai jeep, kalau dingin ya tinggal tutup jendela. Syukurnya saya tidak sampai kendinginan sampai di jalan. Perjalanan pukul 2 pagi akhirnya sampai juga subuh. Menempuh pasir berbisik dengan motor itu luar biasa juga perjuangannya. Saya sempat jatuh dari motor karena medan yang berat, ya syukurnya ada pasir ini. Jadi bukannya sakit, saya semacam hiburan yang menyenangkan. Hahahaha.

Sampailah juga di Bromo. Luar biasa sekali perjalanannya untuk saya. Ada kuda, ada penduduk yang super ramah, ada gunung, ada jeep, ada bule, dan ada saya. Luar biasa. Hahahaha.

Pemandangan pas sedang naik menuju kawah Bromo
Itu saya pas nyampe. Bodo amat dibilang alay.

Saya sendiri sangat puas liburan kali ini. Singkat tapi sangat menyenangkan. Kayaknya mungkin lain kali pengen coba lagi kalau sensasi liburan ke alam memang se-luar biasa itu. Puas sekali untuk kunjungan ke Bromo ini walaupun saya tidak bisa melihat edelweiss langsung ke Ranu Kumbolo maupun Sunrise di Pananjakan. Lain kali kesana, bolehlah πŸ˜€

Sabrini, Saya, Hamid, dan Angga teman saya
Saya dan Kuda *Kudanya cuma buat foto doang soalnya saya kasihan kalau naik kuda, selain saya berat, juga mendaki*

Ada sih satu hal yang sedikit membuat sedih, setidaknya saya merasa begitu. Di sana kan pasir suka beterbangan dan masuk ke mata. Disana, orang-orang pada pakai masker untuk mencegah debu masuk ke saluran pernafasan. Disitu, kuda tidak pakai pelindung untuk mata dan hidungnya. Kebayang nggak tuh kalau tiap hari kuda disana kerja terus dengan badai debu yang lumayan bikin sesek. Ya semogalah semua kuda-kuda dan penduduk disana sehat selalu walau kena debu terus-terusan. Amin.

Sepulangnya dari sana, kita lewat pananjakan. Untuk kebutuhan promosi salah seorang teman yang jadi guide juga, saya ya ikutan di foto jugalah ya.

Diminta foto, ya foto aja. hahahahaha.

Sepulangnya dari Batu dan Bromo, akhirnya waktu bebas sebelum akhirnya balik dengan kereta api besoknya. Tepar semalaman dan baru bangun pagi. Saya menginap di hotel dekat kelenteng dan Pasar besar. Tarifnya 75rb/malam. Bolehlah. Paginya saya ke pasar besar. Selama perjalanan dan liburan di kota ini, saya tidak ragu lagi mendefisinikan masyarakat yang ramah itu seperti apa. Disini untungnya saya hanya bertemu orang-orang ramah lagi baik. Senyum-sapa-dan-salam benar-benar hal yang sangat wajar disini. Maksud saya benar-benar tanpa pandang bulu. Sebuah keanehan ketika kita bertemu seseorang dijalan dan tidak melontarkan salam, sapa, atau senyum.

Tidak ada maksud membandingkan, tapi jika di kota ini senyum itu semacam sunnah, kalau mau senyum silahkan, nggak juga mah ya udah. Senyum juga kalau disenyumin lagi ya syukur, enggak mah ya udah. Kalau di Malang ini, beneran kamu nggak senyum, pasti di senyumin duluan. Disapa duluan. Luar biasa. Memang sih saya cuma dan baru beberapa hari, tapi saya luar biasa senang. πŸ™‚ Teman saya yang notabene anak bersuku Minang pun disini faseh berbahasa jawa sejak lama, karena disini orang-orang biasanya sangat jarang berbahasa Indonesia. Lumrahnya berbahasa jawa. Walau nggak bisa, tapi logatnya cukup mewakilkan lah ya πŸ˜€

Luar biasa. Next trip, Jogja kali ya. Bodo amat dibilang wong deso dan katrok karena nggak pernah ke Jogja. Bodo πŸ˜›

Sebelum terjun ke dunia kerja, Memang tidak ada salahnya refreshing dulu πŸ˜€

Salam semangat semua πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s