The Man stands beside

Kali ini mungkin akan menjadi posting yang hmmm… sedikit roaming karena kali ini ingin bercerita tentang seseorang.

Sepertinya sudah saatnya atau mungkin ingin saatnya saya bercerita sedikit tentang kamu. Mungkin kamu akan baca. Saya tidak bermaksud memuji sekalipun mungkin disini saya bercerita tentang hal yang baik. Bukan pun merendahkan.

Saya sedang tidak kasmaran seperti mungkin teman-teman saya lainnya. Saya bilang kasmaran bukan jatuh cinta. menurut saya itu beda.

Ini bentuk penghargaan saya kepada *yah kamu. semoga kamu baca* Aryonas. Sepertinya saya sudah cukup, bukan, sudah sangat banyak merepotkan. Karena tidak ada yang bisa saya berikan, jadi saja saya hanya bisa menulis saja *sekalipun menulis bukan keahlian, hanya sekedar hobi*

Sedikit saja. Saya hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena :

– Sudah sangat sabar menghadapi saya.

Tidak ada yang tahu bagaimana kompleksnya dan sulitnya saya. Pernah dipersulit cewek? Saya bisa mempersulit lebih kompleks dan dilematis lebih. Bukan bangga. Tapi benar begitu adanya. Ibu dan Ayah saya pun mengatakan betapa tingginya ego saya. Bukan bangga. tapi mungkin efek dimanja. Hanya ada 3 orang sampai saat ini yang berhasil bersabar dengan saya. Ibu, ayah. dan yah. Ary. Terima kasih πŸ™‚

– Sudah sangat sabar menghadapi saya (lagi).

Sudah banyak orang yang tahu tentang penyakit saya. Tapi Arylah yang paling tahu bagaimana menyikapinya agar sembuh, agar tidak kambuh. Dan dialah orang yang paling besar penerimaannya terhadap penyakit saya. Sejak dari awal saya divonis penyakit tersebut sekitar Β 2 tahun yang lalu sampai sekarang. Tetaplah dia yang paling menerima dan mampu meredam ketika gejala maupun efek penyakit itu muncul. Terutama emosi yang tidak stabil ketika penyakit itu muncul. Terima kasih πŸ™‚

– Mampu memotivasi saya disaat tersedih.

Saya punya teman dekat tempat berbagi maupun bersenang-senang. Tapi tidak masalah terbesar saya. Hanya 3 orang saja yang benar-benar tahu apa yang terjadi ketika saya berada pada masa-masa terberat. dan tiga orang ini pula yang berdoa paling keras sampai saya akhirnya bisa sampai ke tahap seperti sekarang. Ayah, Ibu, dan Ary. Terima kasih πŸ™‚

– Untuk semua yang tidak bisa diungkapkan

Mau menulis sampai beratus halaman pun tetap saja tidak cukup menyampaikan terima kasih saya untuk kamu. *ingat kan novel ecek-ecek yang saya tulis bermaksud untuk menceritakan kamu. Sampai sekarang juga nggak kelar-kelar*

U mean so much to me πŸ™‚

Always be my best friend, my teacher, my motivator, my medicine, my problem solver, my mood boster *and mood destroyer too :P*, everything u can be

Semoga kita berjodoh. Ingat target yo ry πŸ˜€ Ayo ayo semangat cari duit! πŸ˜€
kalaupun tidak berjodoh, kan masih bisa di akhirat *eaaaaaaa*

kalaupun tidak berjodoh, ya pastilah takdir terbaiknya itu tho

semoga sehat selalu *jangan nyontek pakai sakit-sakitan*
semoga sukses. *I’M SURE! U’ll be the great one someday*

nb : banyak orang yang bilang rini harus mempertahankan ary tanpa tahu alasan mereka bilang kayak gitu. Tapi kayaknyo kini rini tau deh ry kenapa. πŸ˜€ *pokoknyo ingek target yooohhhh :D(y)*

Advertisements

3 thoughts on “The Man stands beside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s