Dulu VS Sekarang

Dulu saya adalah orang yang cukup menghargai waktu. Maksud menghargai waktu disini adalah dengan datang tepat waktu. Terutama dulu ketika saya masih berada di Sekolah Menengah Atas. Yah, walaupun faktor penentu ketepatan waktu saya adalah ibu saya yang selalu heboh dipagi hari karena tiga orang anaknya yang memiliki penyakit yang sama. Sulit bangun. Masih terbayang sampai sekarang betapa tidak enaknya terbangun di pagi hari dengan suara teriakan 8 oktaf ibu saya yang cukup membuat heboh seantero rumah. Tapi terima kasih kepada ibu saya sungguh sangat jarang terlambat sampai ke sekolah.

Jarang disini berarti saya juga pernah terlambat. Sekolah saya dulu masuk pada pukul 07.15 a.m. Saya sekolah di SMA negeri dan adik saya bersekolah di SMP negeri. Seterlambat – terlambatnya saya untuk selesai bersiap – siap sebelum ke sekolah adalah pukul 06.00. dan kehebohan dari ibu saya akan berganti vokal menjadi suara saya karena ke – lelet – an adik perempuan saya. Jika ibu adalah faktor katalis dalam ketepatan waktu saya, maka adik saya adalah sebaliknya. Dia adalah faktor katalis untuk ketidaktepatan waktu saya. Masih sangat bisa saya ingat, dulu walaupun sekolah saya masih lebih dulu di lewati namun karena entah dengan alasan apa (mungkin menghindari kehebohan dan esmoni adik saya), akhirnya adik saya yang sekolahnya lebih jauh dululah yang diantarkan ke sekolah.

Tapi bersyukur kepada tukang ojek, karena setelah mengenal ojek akhirnya saya bisa berhenti tepat di belokan sebelum jalan pintas menuju sekolah lalu naik ojek dan sampailah saya di sekolah tepat waktu. Karena sekalinya saya terlambat, saya pernah sampai di suruh pulang kembali. Pada nggak tau apa rumah saya jauh T.T. di tambah lagi dulu ada seorang yang lebih terlambat dari saya diperbolehkan masuk dengan alasan, “Iya, dia sakit jadi dia boleh terlambat…” Bapak guru, What the H**l is this? Apa hubungannya sakit dengan datang terlambat?

Tapi dulu tinggalah cerita. Semenjak saya merantau untuk kuliah di negeri orang ini. Lambat laun sifat ketepatan waktu saya menjadi tereduksi. Ketika awal masih menjadi mahasiswa baru sampai setidaknya pertengah tingkat tiga, saya masih termasuk orang yang memegang rekor cukup tepat waktu dibandingkan teman – teman yang lainnya. Dulu bagi saya, daripada terlambat lebih baik saya tidak usah datang, daripada saya mengganggu jalannya sebuah kegiatan.

Tapi sejak saya bergabung di beberapa kegiatan mahasiswa di kampus. Ketika ada sebuah acara atau kegiatan akan di mulai, biasanya mereka akan mempercepat waktu pelaksanaan setengah jam lebih awal dengan alasan “paling juga nanti telat. Makanya di cepetin”. Dulu awal – awal saya masih bisa membantah dengan tegas tentang kesalahan prinsip tersebut. Tapi lama – lama seperti yang dikatakan di Al qur’an, “Ketika kamu memasuki sebuah kaum dan meniru kebiasaan mereka, maka kamu akan termasuk ke dalam kaum tersebut.” Ya bagus kalo kaumnya positif, nah ini. Pada suka telat (yah walaupun banyak sisi positif yang lainnya, tapi untuk ketepatan waktu sungguh sangat tidak tepat waktu. Padahal organisasi yang saya ikuti diikuti oleh mayoritas mahasiswa yang katanya sih agent of change). Intinya karena sepertinya ketidakkuatan prinsip saya akhirnya saya pun menjadi orang yang seperti sekarang. Mampu mentolerir waktu menjadi lebih longgar alias jam karet.

Sekarang saya sudah di tingkat akhir dan waktunya untuk menjalankan kewajiban mahasiswa tingkat akhir. Tugas Akhir. Dan beruntungnya, saya mendapatkan dosen pembimbing yang sungguh sangat disiplin dalam hal apapun, termasuk waktu. Pak Prof ini sungguhlah dosen pertama yang saya lihat yang sungguh sangat sangat sangat TEPAT waktu. Mahasiswa belum ada yang datang, bapaknya udah duduk aja di bangku depan kelas. Semuanya baik – baik saja sampai satu persatu teman saya curhat jika mereka bermasalah dengan bapaknya, baik itu soalnya bimbingan (bapak dosen ini sangat tidak suka ada mahasiswa yang jarang bimbingan. Sungguh sangat tidak suka. Dan teman – teman saya pernah bermasalah karena hal ini). Saya pernah sekali dibantai di ruangan bapak ini, tapi karena ketidakmampuan otak saya untuk menjawab pertanyaan bapak dosen dengan baik. Memang salah saya. Tapi saya sungguh tidak ingin lagi dimarahi seperti itu. Amat menyeramkan. Makanya ketika teman saya curhat soal masalahnya dengan bapak dosen, saya sebisa mungkin untuk menenangkannya karena saya tahu rasanya.

Tapi sekarang, giliran saya yang bermasalah. Saya terlambat untuk bimbingan. Ketika saya menghampiri ruangan bapak dosen yang ada di gedung rekorat. Jeng jeng jeng. Di kunci. Dan ketika bertanya dengan pegawai lain, mereka bilang. “bapaknya cuma bilang. Kalau ada yang nyari, bilang saya sudah tunggu jam 1.” Sekarang sudah lewat 20 menit. Sial… salah saya. Salah saya. Salah saya. Dan membayangkan kehororan apabila saya bertemu lagi membuat saya tidak sanggup untuk bertemu dengan bapaknya. Sampai akhirnya saya mengejar ke kampus. Dan Ya Tuhan, terima kasih. Bapaknya ada. Menunggu semua orang pergi dari ruangan dengan alasan kalau di marahi nggak akan malu, akhirnya saya menunggu bapak itu. Dan ketika bapak dosen melihat muka saya, “Eh kamu! Di tungguin tadi jam satu…” dengan wajah sumringah dan suara keras, bapak dosen menyapa saya. Saya nyengir kuda. Sujud syukur kepada Allah. Terima kasih ya Allah. Akhirnya saya menjawab, “Maaf pak. Tadi ada halangan sedikit di kosan”. Bapaknya nanya lagi “Kenapa? Kamu dikejar maling?” Nyengir kuda lagi.”Ngga pak, agak kurang enak badan.” Cuma itu yang terucap. Yah. memang kalo puasa begini, bawaannya lemes. Tapi setidaknya, membuat sedikit kesadaran saya kembali, lain kali saya berusaha sebisa mungkin tidak akan telat lagi dan mulai lagi menghargai waktu pak. Terima kasih bapak dosen yang sudah memberikan saya syok terapi (yang syukurnya tidak dibantai seperti teman – teman yang lain).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s